DENPASAR, INFOTREN.ID – Kenaikan tajam harga BBM nonsubsidi yang diumumkan Pertamina mulai memunculkan kekhawatiran dari berbagai daerah. Di Bali, dampaknya dinilai berpotensi jauh lebih besar dibanding sekadar bertambahnya biaya mengisi tangki kendaraan.
Provinsi yang selama ini mengandalkan sektor pariwisata, transportasi, jasa, dan UMKM itu diperkirakan akan menghadapi tekanan baru akibat melonjaknya biaya operasional di hampir seluruh sektor ekonomi.
Sebagaimana diketahui, Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau naik hampir 32 persen. Sementara Pertamax Green (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Kenaikan tersebut memicu reaksi dari Ikatan Wartawan Online (IWO) Bali yang menilai kebijakan itu berpotensi menambah beban masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang masih menghadapi berbagai tantangan global.
Ketua IWO Bali, Tri Widiyanti, mengatakan Bali merupakan salah satu daerah yang paling sensitif terhadap kenaikan biaya transportasi karena struktur ekonominya sangat bergantung pada pergerakan manusia dan distribusi barang.
"Di Bali, dampak kenaikan harga BBM akan sangat terasa karena perekonomian daerah ini bertumpu pada sektor pariwisata, transportasi, UMKM, dan jasa," kata Tri dalam pernyataannya.
Menurutnya, kenaikan harga bahan bakar tidak hanya akan dirasakan oleh pemilik kendaraan pribadi, tetapi juga berpotensi merambat ke berbagai sektor usaha.
Mulai dari transportasi wisata, kendaraan sewa, layanan antar jemput, distribusi logistik hotel dan restoran, hingga pelaku usaha mikro yang mengandalkan mobilitas harian untuk menjalankan aktivitas bisnis mereka.
Jika biaya operasional meningkat, pelaku usaha pada akhirnya dihadapkan pada dua pilihan sulit: menyerap kenaikan biaya atau membebankannya kepada konsumen.
Kondisi tersebut dikhawatirkan akan memicu kenaikan harga berbagai produk dan layanan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Bali.
