INFOTREN.ID - Bank Indonesia (BI) meningkatkan kewaspadaan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah di pasar internasional menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Meskipun perdagangan domestik berhenti karena libur bersama, stabilitas mata uang Garuda tetap menjadi prioritas utama otoritas moneter.

Langkah proaktif ini diambil karena pergerakan rupiah di pasar valuta asing luar negeri dapat memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan. BI tidak akan lengah meskipun kalender libur nasional sedang berlangsung.

Upaya menjaga stabilitas nilai tukar terus dioptimalkan melalui berbagai instrumen kebijakan moneter yang dimiliki oleh Bank Indonesia. Tujuannya adalah memperkuat ketahanan eksternal dari potensi eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah.

Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI, menjelaskan bahwa perdagangan rupiah di pasar luar negeri tidak pernah berhenti, bahkan saat pasar keuangan domestik sedang tutup untuk libur Lebaran. Fluktuasi yang terjadi di sana tetap berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi tanah air.

"Termasuk menempuh langkah-langkah penyesuaian yg diperlukan guna tetap konsisten dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional," ujar Destry Damayanti dalam keterangan resminya, dilansir dari IDN Times, Kamis (19/3/2026).

Sebelumnya, setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Selasa, (17/3) lalu, Destry mengonfirmasi bahwa pemantauan terhadap rupiah secara intensif dilakukan pada Pasar Non-Deliverable Forward (NDF) atau pasar valuta asing offshore. Ini adalah arena utama pengawasan mereka saat ini.

"Nah, ini yang kami terus berjaga-jaga, 24 jam kami terus memantau pasar untuk rupiah dolar yang dalam hal ini kami lihat melalui pasar NDF. Jadi dia akan terus, walaupun kami libur Lebaran," ucap Destry Damayanti.

Untuk memastikan pemantauan berjalan efektif di pasar global, BI juga mengaktifkan koordinasi erat dengan Kantor Perwakilan BI yang berlokasi di New York. Jaringan ini menjadi mata dan telinga BI di pusat keuangan internasional.

"Jika dibutuhkan, kami akan melakukan intervensi di pasar NDF,” tutur Destry Damayanti, menegaskan kesiapan BI untuk turun tangan jika volatilitas melampaui batas toleransi.