DENPASAR, INFOTREN.ID — Bali selama ini menjual ketenangan: udara bersih, laut biru, dan ritme hidup yang terasa lambat. Namun di balik citra itu, mesin-mesin diesel terus bekerja tanpa henti—menggerakkan listrik pulau ini dengan biaya mahal dan jejak polusi yang jarang dibicarakan.

Kini, sebuah proyek energi mencoba mengubah arah itu.

Rencana pembangunan terminal penyimpanan Liquefied Natural Gas (LNG) berkapasitas 145.000 meter kubik di Pantai Serangan, Denpasar, bukan sekadar proyek infrastruktur. Ia adalah upaya untuk menggeser fondasi energi Bali—dari ketergantungan pada solar impor menuju sumber energi domestik yang lebih stabil dan, setidaknya secara relatif, lebih bersih.

Di atas kertas, angkanya mencolok.

Bali saat ini mengonsumsi sekitar 500.000 metrik ton solar setiap tahun, dengan biaya mencapai Rp 8,3 triliun. Sebuah angka yang tidak hanya membebani anggaran, tetapi juga menempatkan Bali dalam posisi rentan terhadap fluktuasi global—dari konflik geopolitik hingga tekanan nilai tukar.

Dalam konteks itu, LNG diposisikan sebagai jalan keluar.

“Dengan adanya storage LNG di Serangan, negara bisa menghemat hingga 500 juta dolar AS per tahun,” kata Dicky Ahmad Gustyana, praktisi bisnis energi. “Dan yang penting, ini berasal dari dalam negeri—dari ladang Tangguh di Papua.”

Ketergantungan yang Selama Ini Disembunyikan

Ketergantungan pada bahan bakar minyak bukan sekadar soal energi. Ia adalah soal kedaulatan.

Selama ini, pasokan energi Bali sangat bergantung pada impor—yang artinya harga listrik dan biaya operasional industri, termasuk pariwisata, ikut bergerak mengikuti dinamika global yang tidak bisa dikendalikan.