INFOTREN.ID - Kelompok militan Houthi yang berbasis di Yaman telah mengirimkan sinyal peringatan keras terkait dinamika geopolitik terbaru di kawasan Timur Tengah. Mereka menegaskan bahwa posisi mereka sama sekali tidak netral dalam konfrontasi yang kini melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
Ancaman intervensi militer ini muncul sebagai respons langsung terhadap ketegangan yang terus meningkat antara kekuatan Barat dan Teheran. Houthi menyatakan kesiapan mereka untuk bertindak jika perkembangan di tingkat regional mendikte perlunya tindakan tegas dari pihak mereka.
Pemimpin Houthi, Abdul-Malik al-Houthi, menyampaikan pandangan tegas mengenai situasi terkini. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks meningkatnya kekhawatiran akan perluasan konflik di kawasan tersebut.
Menurut informasi yang dilansir dari Anadolu Agency pada hari Jumat, 27 Maret 2026, Al-Houthi secara eksplisit mengutuk serangan gabungan yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran. Tindakan militer tersebut dianggap tidak memiliki dasar pembenaran yang kuat oleh kepemimpinan Houthi.
"Kami tidak netral, tetapi posisi kami berasal dari rasa memiliki terhadap Islam dan bangsa Islam," ucap Al-Houthi.
Kutipan tersebut disampaikan oleh pemimpin Houthi tersebut dalam sebuah pidato yang disiarkan secara luas melalui saluran televisi milik kelompok mereka, yaitu Al-Masirah. Ini menggarisbawahi dimensi ideologis di balik potensi keterlibatan mereka.
Pidato tersebut menjadi penanda bahwa Houthi melihat konflik ini bukan sekadar perselisihan regional, melainkan isu yang menyentuh solidaritas komunitas Islam yang lebih luas. Kesiapan mereka untuk campur tangan menunjukkan peningkatan risiko eskalasi.
Ancaman ini secara efektif menempatkan Houthi sebagai aktor yang berpotensi memperkeruh konflik, mengubah lanskap keamanan Timur Tengah yang sudah rapuh menjadi lebih tidak terduga.