INFOTREN.ID - Proyeksi mengejutkan datang dari U.S. Energy Information Administration (EIA) mengenai peta kekuatan produksi minyak global untuk tahun 2025 mendatang. Lembaga tersebut memprediksi total produksi minyak dunia akan mencapai ambang batas signifikan, yaitu sekitar 106 juta barel per hari.

Stabilitas pasokan energi global saat ini masih sangat bergantung pada dua poros utama, yakni Amerika Utara dan kawasan Timur Tengah. Kedua wilayah geopolitik ini diprediksi akan menguasai hampir 60 persen dari seluruh pangsa pasar minyak internasional.

Menurut data terbaru yang dikeluarkan EIA, Amerika Utara kini secara resmi dinobatkan sebagai kawasan penghasil minyak terbesar di dunia pada tahun 2025. Kontribusi wilayah ini diperkirakan mencapai 29,9 persen dari total produksi global yang ada.

Secara angka absolut, Amerika Utara diproyeksikan mampu menghasilkan rata-rata sebanyak 31,8 juta barel minyak mentah per hari. Lonjakan signifikan ini tidak terlepas dari kinerja luar biasa yang ditunjukkan oleh Amerika Serikat.

Pertumbuhan produksi Amerika Serikat disebut-sebut mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah negara tersebut. Produksi AS bahkan dilaporkan telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam kurun waktu dua dekade terakhir, terutama didorong oleh masifnya ekspansi pengeboran minyak serpih atau shale oil.

"Amerika Utara resmi menjadi kawasan penghasil minyak terbesar di dunia pada 2025. Wilayah tersebut berkontribusi sebesar 29,9 persen dari total produksi global dengan rata-rata mencapai 31,8 juta barel per hari," demikian bunyi proyeksi dari laporan tersebut.

Di sisi lain, Timur Tengah harus puas menempati posisi kedua sebagai produsen minyak terbesar dunia, dengan total produksi harian diproyeksikan mencapai 31 juta barel. Arab Saudi masih mempertahankan posisinya sebagai produsen utama di kawasan tersebut.

Menariknya, meskipun masih menjadi pemimpin regional, jumlah rig pengeboran minyak milik Arab Saudi dilaporkan mengalami penurunan hingga mencapai level terendah dalam dua dekade terakhir. Penurunan ini terjadi seiring dengan adanya pergeseran fokus investasi negara tersebut.

"Penurunan tersebut terjadi karena adanya pengalihan investasi ke sektor gas alam yang ditargetkan naik 60 persen pada 2030," jelas laporan tersebut, mengindikasikan perubahan strategi energi jangka panjang Arab Saudi.