INFOTREN.ID - Ketegangan di perbatasan utara Israel terus memanas menyusul penegasan keras dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terkait status gencatan senjata. Keputusan ini diambil meskipun ada langkah diplomatik yang mulai dijalin antara Tel Aviv dan Beirut.

Netanyahu secara eksplisit menyatakan bahwa tidak ada gencatan senjata yang berlaku di kawasan Lebanon saat ini. Penegasan ini datang di tengah upaya Israel untuk menavigasi situasi keamanan yang kompleks di wilayah tersebut.

Pernyataan ini kontras dengan dimulainya negosiasi langsung yang telah diperintahkan oleh sang Perdana Menteri dengan otoritas di Beirut. Hal ini menunjukkan adanya dualisme dalam pendekatan Israel terhadap konflik yang sedang berlangsung.

Fokus utama dari penolakan gencatan senjata ini adalah perbedaan interpretasi terhadap kesepakatan internasional yang baru saja tercapai. Israel berpegang teguh pada batasan geografis dari kesepakatan tersebut.

Secara spesifik, gencatan senjata selama dua minggu, yang disepakati antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada hari Selasa (7/4), tidak dianggap mencakup Lebanon oleh pihak Israel. Keputusan ini mengisolasi Lebanon dari cakupan kesepakatan damai tersebut.

Lebanon merupakan basis utama kelompok Hizbullah, yang belakangan ini terlibat dalam baku tembak yang intens dengan pasukan Israel. Keberadaan Hizbullah menjadi faktor krusial dalam penolakan gencatan senjata ini.

Penegasan kembali sikap keras Netanyahu ini disampaikan melalui sebuah pernyataan video yang diunggah ke platform media sosial X pada Kamis (9/4) waktu setempat. Hal ini semakin memperkuat posisi resmi pemerintah Israel.

"Tidak ada gencatan senjata di Lebanon," ujar Benjamin Netanyahu, menegaskan posisi negaranya terkait situasi terkini, seperti yang disampaikannya dalam unggahan video tersebut.

Kabar mengenai penegasan PM Israel ini pertama kali disampaikan kepada publik pada hari Jumat (10/4/2026), dilansir dari Anadolu Agency. Informasi ini menyoroti keseriusan Israel dalam menghadapi ancaman dari utara.