INFOTREN.ID - Situasi di Yerusalem memanas setelah otoritas Israel mengambil langkah drastis dengan menutup akses penuh ke kompleks Masjid Al-Aqsa. Penutupan ini terjadi menjelang periode krusial dalam bulan suci Ramadan, memicu protes dari komunitas Palestina.
Keputusan mendadak ini diambil oleh kepolisian Israel dengan alasan utama untuk menjaga keamanan di tengah meningkatnya ketegangan regional. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran disebut menjadi salah satu pertimbangan utama di balik penutupan situs suci tersebut.
Akibat penutupan ini, umat Muslim Palestina terpaksa melaksanakan ibadah tarawih di tempat terbuka. Mereka menggelar shalat berjamaah di jalanan sekitar kompleks suci tersebut pada Kamis (12/3) malam.
Menurut informasi yang beredar di media setempat, langkah penutupan total ini merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi sejak Israel menduduki Yerusalem pada tahun 1967. Hal ini menunjukkan eskalasi signifikan dalam pembatasan akses ke situs keagamaan.
"Umat muslim melakukan ibadah tarawih di jalanan di Yerusalem usai kepolisian Israel menutup akses ke Masjid Al-Aqsa pada Kamis (12/3)," demikian konteks situasi yang terjadi, dilansir dari CNN Indonesia.
Kepolisian Israel secara resmi menyatakan bahwa seluruh situs suci di wilayah Yerusalem akan ditutup demi alasan keamanan. Keputusan ini mendapat sorotan tajam dari komunitas internasional dan negara-negara Muslim.
Kecaman keras datang dari delapan negara Islam dan Arab atas tindakan Israel yang tetap menutup masjid tersebut. Penutupan ini sangat disayangkan karena bertepatan dengan sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadan.
"Delapan negara Islam dan Arab mengutuk tindakan Israel ini akibat tetap menutup masjid pada sepuluh hari terakhir di bulan suci," jelas konteks protes yang muncul, dilansir dari CNN Indonesia.
Peristiwa ini terekam jelas pada Jumat, 13 Maret 2026, pukul 18:45 WIB, ketika umat Muslim di Yerusalem berupaya menjalankan kewajiban ibadah mereka di tengah pembatasan ketat. Sumber foto dan laporan awal mengenai kejadian ini berasal dari kantor berita Reuters.

