INFOTREN.ID - Xiaomi Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga kualitas dan inovasi produk di tengah lonjakan biaya yang membayangi industri ponsel pintar. Strategi ini ditempuh dengan meninjau secara konsisten dinamika pasar, mulai dari pergerakan nilai tukar, biaya logistik dan distribusi, hingga perubahan regulasi dan ekspektasi konsumen yang terus meningkat.
Marketing Director Xiaomi Indonesia, Andi Renreng, menyatakan bahwa peninjauan berkala ini bertujuan untuk memastikan nilai yang dihadirkan produk tetap mencerminkan kualitas dan inovasi. "Peninjauan berkala ini kami lakukan untuk memastikan value yang dihadirkan tetap mencerminkan kualitas dan inovasi produk," kata Andi kepada Bisnis pada Senin (13/7/2026).
Fokus utama Xiaomi adalah mengoptimalkan pengalaman pengguna melalui kombinasi spesifikasi unggul, efisiensi performa, desain menarik, dan integrasi ekosistem yang relevan dengan kebutuhan konsumen Indonesia. Perusahaan berupaya menghadirkan teknologi premium yang andal dan sesuai dengan gaya hidup masyarakat. Pendekatan ini terbukti efektif dalam mempertahankan loyalitas pelanggan setia sekaligus menarik segmen pasar yang lebih luas.
Andi menambahkan bahwa Indonesia merupakan pasar yang sangat penting bagi Xiaomi. Oleh karena itu, perusahaan berkomitmen untuk terus berinovasi secara berkelanjutan sembari mematuhi seluruh regulasi pemerintah. Ke depan, Xiaomi optimistis dapat memperkuat portofolio produknya di Indonesia, menjaga relevansi di setiap lini, serta menghadirkan pengalaman digital yang semakin mulus.
"Melalui visi strategis ‘Human x Car x Home’, kami berkomitmen menciptakan ekosistem terintegrasi yang cerdas sekaligus memberi nilai lebih dan kenyamanan optimal dalam keseharian konsumen," ungkapnya.
Sementara itu, Associate Market Analyst, Client Devices Research IDC Indonesia, Vanessa Aurelia, menilai kelangkaan memori menjadi salah satu pemicu kenaikan biaya di industri smartphone. Dampaknya terasa di seluruh segmen pasar, terutama pada perangkat dengan harga di bawah US$200 atau sekitar Rp3,6 juta, yang memiliki margin keuntungan lebih tipis.
Vendor telah mulai menaikkan harga sejak kuartal I/2026 di berbagai segmen, bahkan melakukan beberapa kali penyesuaian. "Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga 2027. Kenaikan harga tersebut menjadi perhatian khusus mengingat kondisi ekonomi saat ini dan melemahnya daya beli konsumen," ujar Vanessa.
Vanessa memperkirakan kenaikan harga di berbagai segmen akan menyebabkan pasar smartphone Indonesia mengalami penurunan dua digit sepanjang 2026. Namun, segmen premium dengan harga di atas US$600 atau sekitar Rp10,8 juta diperkirakan masih akan lebih mampu bertahan dibandingkan pasar secara keseluruhan. Pergeseran ini terjadi seiring vendor memperluas portofolio perangkat kelas atas.