INFOTREN.ID - Pagi yang sibuk di RW 01 Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, kini tak lagi diwarnai oleh pemandangan tumpukan limbah yang berserakan. Sejak tahun 2018, warga setempat telah berhasil menginisiasi Bank Sampah Cemara yang mampu mengelola sekitar 500 kilogram sampah setiap harinya di tengah pemukiman padat penduduk.

Fasilitas yang akrab disapa "Tempe Bacem" ini menjadi pusat pemilahan limbah yang mencakup area 10 RT di wilayah tersebut. Tidak hanya mengandalkan limbah rumah tangga, pengelola juga mengumpulkan sampah dari Pasar Koja, sekolah-sekolah, hingga rumah makan di sekitar lingkungan untuk diproses lebih lanjut.

Dikutip dari Kompas.com, kehadiran bank sampah ini telah membawa perubahan besar bagi estetika lingkungan yang dulunya dikenal kumuh. Sebelum program ini berjalan, area pinggir jalan di sekitar Pasar Koja sering kali dipenuhi sampah yang tidak terkelola, namun kini kondisi tersebut telah berubah total menjadi lebih bersih.

Dani Arwanto, sosok inisiator di balik berdirinya Bank Sampah Cemara, melihat bahwa limbah sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang besar jika dikelola dengan tepat. Ia meyakini bahwa sampah organik memiliki kandungan nutrisi yang sangat berharga bagi keberlangsungan ekosistem tanaman dan hewan ternak.

"Kami melihat bahwa sampah organik itu bukan lagi sekadar limbah, tetapi di dalamnya terdapat kandungan nutrisi yang harus kita kelola untuk kebutuhan hewan maupun tanaman di lingkungan sekitar," kata Dani Arwanto.

Dalam praktiknya, sampah organik lunak diolah menjadi pupuk dan pakan ternak, sementara limbah keras seperti kayu diproses menjadi pelet biomassa sebagai bahan bakar alternatif. Selain itu, sampah anorganik seperti botol plastik dihargai Rp 2.000 hingga Rp 5.000 per kilogram, memberikan nilai tambah langsung bagi warga yang menyetorkannya.

Pengolahan sampah di tempat ini menggunakan dua metode utama, yakni pemanfaatan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau maggot serta penggunaan mesin pengolah berkapasitas besar. Metode maggot terbukti sangat efektif untuk mengurai sisa dapur dan sampah organik lunak dalam waktu yang relatif singkat.

"Maggot digunakan untuk mengurai sampah organik lunak atau sisa dapur, di mana produksi maggot di sini mencapai sekitar 80 kg hingga 100 kg per hari," jelas Dani Arwanto.

Berkat efisiensi mesin yang mampu mengolah hingga satu ton sampah per hari, pengelola kini justru sering kali mengalami kekurangan bahan baku sampah organik. Hal ini menunjukkan betapa masifnya pergerakan pengolahan limbah yang dilakukan oleh komunitas di wilayah Koja tersebut.