INFOTREN - Kabupaten Sumbawa menyimpan kekayaan yang jarang dimiliki daerah lain: motif tenun tradisional nesek, warisan budaya Sasambo yang sarat filosofi, serta semangat luar biasa dari para perempuannya. Namun di tengah gemerlap janji Pemajuan Kebudayaan yang dicanangkan pemerintah pusat, sebuah inisiatif akar rumput bernama Sekolah Tenun Dadara Boto justru berjuang sendiri sejak 2018. Delapan tahun.
Tanpa satu pun keputusan kebijakan yang berpihak. Sementara para perempuan purna migran, disabilitas, dan putus sekolah di Sumbawa semakin habis kesabarannya. Pertanyaan besarnya: apakah negara benar-benar hadir untuk budaya, atau hanya sekadar menjadi tontonan?
Sekolah Tenun Bukan Sekadar Gedung
Yang dirancang Mila Rosalia—aktivis perempuan, sekretaris KPI Sumbawa, sekaligus pelaku industri kreatif—bukanlah proyek seremonial. Sekolah Tenun Dadara Boto dirancang sejak 2018 dengan tiga fungsi besar:
"Rumah pembelajaran, rumah produksi, dan pemasaran karya seni dan budaya Sumbawa," ujar Mila kepada Infotren.
Baginya, sekolah ini bukan sekadar tempat menenun. Ia adalah ekosistem ekonomi kerakyatan yang menyatukan regenerasi pewaris budaya dengan kebutuhan pasar modern. Motif nesek tidak lagi sekadar kain adat yang tersimpan di lemari, tetapi bisa dihidupkan kembali melalui inovasi digital tanpa kehilangan pakem.
"Saya sebagai putri asal Sumbawa merasa bertanggung jawab atas kelestarian kekayaan budaya Sumbawa, bagaimana agar tenun tradisional dengan ragam motif khas Sumbawa terus terjaga dan berinovasi dengan penerapan mesin digital dalam peningkatan produksi."
Pernyataan ini penting. Mila tidak sedang melestarikan budaya secara romantik—ia sedang membangun jembatan antara tradisi dan industri 4.0. Dan itu adalah pekerjaan yang semestinya menjadi mandat negara.

Menjawab Tiga Krisis Sekaligus
Yang membuat gagasan ini urgen adalah kemampuannya menjawab tiga krisis struktural di Sumbawa: