JAKARTA, Infotren.id – Tren pemilihan produk wewangian di kalangan masyarakat Indonesia menunjukkan pergeseran signifikan. Jika sebelumnya keputusan pembelian didominasi oleh kesan awal saat mencoba di toko, kini konsumen lebih mengutamakan stabilitas aroma sepanjang hari setelah beraktivitas.
Perubahan perilaku belanja ini dipengaruhi oleh karakter cuaca domestik yang cenderung panas dan lembap. Kondisi lingkungan tersebut secara langsung memengaruhi reaksi kimia antara cairan wewangian dengan pori-pori kulit.
"Semprotan pertama hanya menunjukkan sebagian kecil dari karakter sebuah parfum," ujar Josh Frost, Founder sekaligus Perfumer Best Perfume Store, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (19/7/2026).
Josh menjelaskan, kesalahan umum yang kerap dilakukan konsumen adalah terburu-buru dalam menilai kualitas suatu produk. Padahal, ketangguhan formulasi sebuah parfum baru akan teruji setelah beberapa jam pemakaian. Fase krusial yang dikenal sebagai dry-down adalah momen ketika elemen dasar wewangian mulai memancarkan identitas aslinya secara utuh. Pada tahap inilah konsumen dapat mengidentifikasi kualitas konsentrasi minyak atsiri yang digunakan.
"Di iklim tropis seperti Indonesia, kualitas sebuah parfum justru mulai terlihat setelah delapan hingga sepuluh jam pemakaian," tutur Josh.
Ia menambahkan, ketahanan molekul aroma untuk tetap melekat di tubuh meskipun terpapar keringat menjadi fokus utama para peracik profesional saat ini. Fenomena ini mendorong pelaku industri untuk berinovasi menciptakan produk dengan konsentrasi ekstrak yang lebih padat.
Selain itu, logistik pasar yang adaptif juga diwujudkan melalui penyediaan layanan konsultasi terpandu. Layanan ini bertujuan memetakan kebutuhan wewangian berdasarkan gaya hidup personal konsumen. Langkah edukasi ini dinilai efektif membantu masyarakat menemukan produk yang selaras dengan profil aroma tubuh masing-masing.
"Parfum terbaik adalah parfum yang tetap terasa seperti diri Anda ketika hari hampir selesai," pungkas Josh, memaparkan filosofinya.
Transformasi preferensi ini menegaskan bahwa tingkat literasi pencinta wewangian di dalam negeri kini bergerak ke arah yang lebih matang. Sebuah produk wewangian tidak lagi sekadar dinilai dari kemewahan kemasan atau popularitasnya di media sosial, melainkan pada performanya yang sesungguhnya.