INFOTREN.ID - Insiden keracunan massal yang menimpa lebih dari 200 siswa di Surabaya menjadi sorotan serius Badan Gizi Nasional (BGN). Peristiwa ini diduga kuat dipicu oleh pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dilakukan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh Surabaya.

Peristiwa ini terjadi setelah para siswa menyantap menu dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin (11/5) lalu. Sebanyak 200 siswa dan guru dari 12 sekolah di Kelurahan Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan, diduga kuat mengalami keracunan makanan.

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Surabaya yang juga merupakan perwakilan BGN Jawa Timur, Kusmayanti, membeberkan temuan awal mengenai adanya penyimpangan prosedur. Salah satu pelanggaran krusial adalah ketiadaan pengawas gizi saat distribusi bahan baku makanan tiba di lokasi.

Dikutip dari CNN Indonesia, Kusmayanti menyatakan bahwa SOP yang ditetapkan BGN sebenarnya sudah memadai, namun penerapannya di SPPG terkait mengalami kegagalan signifikan. "Di antaranya, pengawas gizi tidak ada di tempat saat kualitas bahan baku datang," kata Kusmayanti.

Pernyataan ini disampaikan Kusmayanti dalam forum Rapat Dengar Pendapat (Hearing) bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya pada hari Rabu (13/5). Forum penting ini juga dihadiri oleh Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai.

Absennya pengawas gizi ini, menurut Kusmayanti, berdampak besar karena mereka tidak bisa memastikan apakah kerusakan makanan terjadi saat bahan baku didistribusikan atau selama proses pengolahan di dapur. Kondisi ini diperparah dengan penanganan sampel makanan yang tidak sesuai prosedur.

Kusmayanti juga menyoroti kerusakan sampel makanan yang seharusnya menjadi barang bukti krusial untuk pemeriksaan laboratorium. Sampel tersebut sempat dikeluarkan dari lemari pendingin tanpa penanganan yang tepat sebelum tim Dinas Kesehatan tiba di lokasi.

"Harusnya ketika dikeluarkan ada treatment khusus dan dimasukkan ke cooler box, tidak dibiarkan di suhu ruangan. Akibatnya, hanya daging yang masih bisa diambil sampelnya," paparnya merinci penanganan sampel yang keliru tersebut.

Atas insiden yang merupakan kasus keracunan pertama dalam program MBG di Surabaya ini, BGN secara resmi menyampaikan permohonan maaf kepada publik. "Dengan segala kerendahan hati kami memohon maaf. Ini menjadi catatan bagi kami untuk jauh lebih waspada dan lebih hati-hati dalam penerapan SOP," ujar Kusmayanti.