INFOTREN.ID - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi memberikan perhatian khusus terhadap kasus dugaan kekerasan seksual yang menimpa sejumlah santriwati di sebuah pondok pesantren di Pati, Jawa Tengah. Hal ini disampaikan langsung oleh putri mendiang Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Alissa Wahid, yang menjabat sebagai Ketua PBNU, menyatakan bahwa Satuan Anti-Kekerasan (SAKA) Pesantren PBNU telah mengambil sikap tegas terkait insiden yang terjadi di Ponpes Ndolo Kusumo, Pati. Penanganan kasus ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan standar keamanan di lembaga pendidikan keagamaan.
"Kami menegaskan bahwa kasus semacam ini harus menjadi pelajaran serius untuk memperkuat sistem perlindungan santri. Keselamatan dan martabat santri harus diletakkan di atas segalanya," ujar Alissa pada Selasa (5/5), dilansir dari Antara.
Alissa Wahid menekankan komitmen PBNU untuk terus memantau perkembangan hukum kasus tersebut sampai selesai. Tujuannya adalah memastikan bahwa institusi pesantren tetap menjadi lingkungan yang aman, bermartabat, dan dipercaya oleh masyarakat luas.
Menurut Alissa, tindak pidana kekerasan seksual yang melibatkan tokoh agama atau pengasuh pesantren merupakan suatu kejahatan luar biasa yang sangat mencoreng nama baik institusi pendidikan agama. Ia menegaskan bahwa tidak ada toleransi terhadap segala bentuk kekerasan di lingkungan belajar.
"Tindakan tersebut adalah kejahatan yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun. Ini merupakan pengkhianatan terhadap nilai-nilai pendidikan, kemanusiaan, serta amanah pesantren," kata Alissa, yang juga dikenal sebagai inisiator Jaringan Gusdurian.
SAKA Pesantren PBNU mendesak aparat penegak hukum agar segera memproses pelaku secara transparan dan adil sesuai dengan koridor hukum yang berlaku. Selain itu, mereka menyerukan dukungan penuh bagi para korban.
"Mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berpihak pada korban dan memberikan pendampingan maksimal, mulai dari bantuan hukum hingga pemulihan psikologis jangka panjang," ungkap Alissa.
Ia juga mengimbau orang tua santri agar lebih berhati-hati dalam memilih pesantren dengan meneliti rekam jejak pengasuh serta sistem pengawasan internal yang diterapkan oleh yayasan.