INFOTREN.ID - Gelombang kecaman keras datang dari berbagai pemuka agama di Amerika Serikat sebagai respons atas serangan bersenjata yang terjadi di sebuah pusat Islam di San Diego. Peristiwa tragis pada Senin (18/5) tersebut mengakibatkan tewasnya tiga pria Muslim, memicu kekhawatiran mendalam mengenai meningkatnya atmosfer kebencian.
Insiden penembakan ini dianggap oleh banyak pihak sebagai dampak langsung dari memanasnya retorika kebencian yang ditujukan kepada umat Muslim dan komunitas minoritas agama lainnya. Hal ini disampaikan oleh Dewan Muslim Amerika India (IAMC) sebagai pengingat menyakitkan akan bahaya Islamofobia yang masih mengancam kehidupan komunitas minoritas.
Pihak kepolisian setempat telah mengonfirmasi bahwa dua tersangka remaja dalam kasus penembakan tersebut ditemukan tewas di dekat lokasi kejadian. Kedua remaja tersebut diduga kuat telah mengalami proses radikalisasi melalui jalur daring sebelum melancarkan aksinya.
Imam Taha Hassane, Direktur Islamic Center of San Diego, secara eksplisit menghubungkan insiden kekerasan ini dengan dampak negatif dari pernyataan bernada kebencian yang disebarkan oleh figur publik dan media massa.
"Ketika pejabat terpilih dan media mencoba mendehumanisasi suatu komunitas, inilah hasilnya," ujar Imam Taha Hassane, Direktur Islamic Center of San Diego. Dikutip dari Media Indonesia, pernyataan ini menekankan peran narasi publik dalam memicu kekerasan.
Kecaman dari para pemimpin agama ini muncul bersamaan dengan sorotan tajam terhadap ucapan kontroversial dari beberapa anggota Kongres dari Partai Republik. Beberapa di antaranya bahkan dinilai telah melontarkan perbandingan yang merendahkan umat Muslim, bahkan mempertanyakan keberadaan mereka dalam struktur masyarakat Amerika.
Sebagai langkah antisipatif terhadap gelombang serangan yang terus berkembang, ratusan rohaniwan dari berbagai denominasi mendatangi Capitol Hill pada Selasa (19/5). Mereka secara kolektif mendesak Senat untuk segera mengesahkan alokasi dana keamanan rumah ibadah tambahan sebesar US$1 miliar.
Para pemimpin agama tersebut juga merilis pernyataan tertulis bersama yang menegaskan urgensi situasi keamanan yang dihadapi oleh tempat-tempat peribadatan saat ini. Mereka menekankan pentingnya rasa aman bagi setiap pemeluk agama saat menjalankan ritual ibadah mereka.
"Ancaman yang dihadapi komunitas agama di Amerika adalah nyata, mendesak, dan terus berkembang. Tidak seorang pun boleh merasa takut akan keselamatan mereka saat berkumpul untuk berdoa atau beribadah," bunyi pernyataan bersama pemimpin agama tersebut.