INFOTREN.ID - Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) Makassar, Sulawesi Selatan, tengah menjadi sorotan menyusul dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh salah seorang oknum dosen berinisial IS. Dugaan ini menyeret tiga mahasiswi sebagai korban yang mengaku dilecehkan saat berusaha memperbaiki nilai mata kuliah.
Peristiwa ini mulai terungkap setelah adanya informasi yang disampaikan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) PNUP Makassar. Presiden BEM PNUP Makassar, Hendra Saputra, mengungkapkan bahwa informasi awal diperoleh saat mereka mengunjungi salah satu organisasi kemahasiswaan di kampus.
"Kasus ini bermula ketika kami, teman-teman BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) mengunjungi salah satu organisasi kemahasiswaan di kampus. Muncul salah satu saksi mengatakan, ada itu kasus pelecehan, salah satu korban dari Jurusan Akuntansi," kata Hendra Saputra kepada wartawan di Makassar, Jumat (8/5), dikutip dari Antara.
Setelah menerima kabar tersebut, Bidang Advokasi BEM segera melakukan penelusuran mendalam untuk memastikan kebenaran informasi yang beredar di lingkungan kampus. Meskipun awalnya tidak ada laporan resmi yang masuk, BEM tetap proaktif mencari keterangan dari berbagai pihak.
"Kami mencoba mencari tahu apakah benar memang si dosen ini selaku pelaku. Ternyata kami mencari tahu, ada tiga korban yang berani bicara dengan dasar BEM menjamin kerahasiaan korban, tidak membeberkan identitasnya," tutur Hendra.
Dugaan pelecehan tersebut terjadi ketika para mahasiswi tersebut hendak mengikuti ujian perbaikan nilai yang dijadwalkan terpisah antara pukul 08.00 WITA dan 10.00 WITA. Karena adanya kekhawatiran, para korban saling berkomunikasi untuk datang bersamaan.
Namun, saat pelaksanaan ujian perbaikan nilai, terduga pelaku memisahkan korban ke dalam ruangan berbeda, yakni ruangan A dan B, dengan alasan agar tidak terjadi kecurangan atau saling menyontek di antara mereka.
Menurut keterangan korban, oknum dosen tersebut mulai melakukan tindakan tidak pantas dengan mendekati dan merangkul salah satu mahasiswi. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan untuk membuat korban berada dalam jarak yang lebih dekat dengannya.
"Dari keterangan korban, katanya dia (terduga) memegang kepalanya (korban) melihat area tubuh mahasiswi dengan tidak pantas, melotot begitu. Menarik kepalanya, merangkul si korban, lalu menarik kepalanya hingga kayak menyentuh perut. Dia tarik supaya dekat, korban menolak tapi dipaksa," ucap Hendra Saputra.