INFOTREN.ID - Perdebatan mengenai penggunaan Pertalite (RON 90) pada sepeda motor berasio kompresi tinggi kembali mencuat. Keputusan ini sering diambil oleh pemilik kendaraan yang memilih turun kelas bahan bakar akibat kenaikan harga Pertamax yang kini mencapai Rp 16.250 per liter. Meskipun motor tetap dapat digunakan, ada konsekuensi yang perlu diperhatikan, terutama terkait penurunan performa dan kebutuhan servis yang lebih rutin.

Endro Sutarno, People & Technical Development SiTEPAT, menjelaskan bahwa kebutuhan angka oktan bahan bakar sangat dipengaruhi oleh rasio kompresi mesin. "Semakin tinggi kompresi mesin, semakin tinggi pula angka oktan yang dibutuhkan agar proses pembakaran berlangsung sempurna," ujar Endro kepada Kompas.com, Selasa (13/7/2026).

Ia menambahkan, "Sebenarnya gini, bahan bakar itu semakin motor yang punya kompresi semakin tinggi, itu otomatis dia memerlukan bahan bakar yang mudah terbakar. Bahan bakar yang mudah terbakar akibatnya adalah pembakarannya jadi lebih sempurna."

Pembakaran Kurang Sempurna Picu Kerak Karbon

Ketika mesin yang membutuhkan bahan bakar beroktan lebih tinggi diisi Pertalite, proses pembakaran memang tetap terjadi. Namun, ada kemungkinan tersisa residu pembakaran yang lama-kelamaan dapat berubah menjadi kerak karbon.

"Tapi kalau bahan bakarnya enggak mudah kebakar, masih ada sisa-sisanya, itu yang bisa menimbulkan cepat banyak kerak di ruang bakar," jelas Endro.

Meskipun demikian, Endro menilai pabrikan kendaraan telah memperhitungkan kemungkinan penggunaan bahan bakar dengan angka oktan lebih rendah. Oleh karena itu, sisa pembakaran yang terbentuk umumnya tidak terlalu banyak dan masih dapat diatasi melalui perawatan berkala.

Servis Berkala Jadi Kunci Perawatan

Kerak karbon yang terbentuk dapat dibersihkan saat servis rutin. Komponen yang biasanya memerlukan perhatian antara lain injektor, throttle body