INFOTREN.ID - Kawasan Keraton Gunung Kawi yang terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan publik menyusul investigasi yang dilakukan oleh Marcel Radhival, yang dikenal sebagai Pesulap Merah. Penelusuran ini dilakukan untuk meluruskan berbagai narasi mistis yang selama ini menyelimuti lokasi sakral tersebut, terutama isu mengenai praktik pesugihan dan penggandaan uang instan.

Fenomena ini menjadi perbincangan hangat setelah Pesulap Merah mengunggah penelusuran tersebut melalui akun media sosialnya, merespons rasa penasaran warganet tentang praktik gelap yang dikaitkan dengan Gunung Kawi. Ia berupaya mencari kebenaran di balik desas-desus penggunaan tumbal dan ritual kekayaan cepat tersebut.

Untuk mendapatkan informasi yang komprehensif, Marcel secara langsung mengunjungi kompleks tersebut, yang berlokasi di Dusun Gendoga, Desa Balesari, Kecamatan Ngajum. Di sana, ia berdialog dengan juru kunci setempat guna mendapatkan klarifikasi resmi mengenai fungsi dan sejarah Keraton Gunung Kawi.

Kesan menyeramkan yang selama ini melekat pada Gunung Kawi ternyata sangat kontras dengan realitas yang ditemui di lapangan. Saat memasuki area gerbang, pengunjung disuguhi suasana lereng gunung yang sejuk, dihiasi deretan pohon besar yang dibalut kain poleng hitam-putih khas tempat keramat.

Meskipun tercium aroma dupa dan sesajen di beberapa sudut, pihak pengelola menegaskan bahwa hal tersebut bukanlah indikasi adanya sekte gelap atau praktik pesugihan yang dituduhkan. Aroma tersebut merupakan bagian dari penghormatan tradisi ziarah yang umum dilakukan di makam leluhur.

Jono, salah seorang juru kunci kompleks keraton, menjelaskan bahwa inti dari kawasan tersebut adalah makam dari Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati. Kedua tokoh ini merupakan leluhur dari Kerajaan Kediri kuno yang memilih menetap di sana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta hingga mencapai moksa.

"Masyarakat datang ke sini murni untuk berziarah dan bertawasul kepada leluhur, sama seperti makam-makam keramat pada umumnya. Anggapan bahwa tempat ini sebagai lokasi mencari pesugihan atau kekayaan instan itu tidak benar," ujar Jono saat ditemui detikJatim pada Kamis, 12 Oktober 2023.

Pengelola Keraton Gunung Kawi menekankan bahwa kunjungan peziarah bertujuan untuk berdoa memohon kelancaran usaha kepada Tuhan, dengan menghormati jasa leluhur sebagai perantara spiritual. Keberhasilan yang diraih peziarah tidak diperoleh melalui tumbal, melainkan melalui donasi sukarela yang diberikan.

Dana donasi sukarela dari para peziarah yang telah sukses tersebut kini dimanfaatkan untuk pengembangan fasilitas modern di kawasan tersebut. Salah satu wujud nyata dari pemanfaatan dana ini adalah penyediaan koneksi Wi-Fi gratis bagi para pengunjung yang datang.