INFOTREN.ID - Sebuah prestasi akademik membanggakan datang dari Tangerang Selatan, di mana seorang siswi lulusan SMA Bina Nusantara (Binus) Serpong berhasil mencetak sejarah dengan diterima di tujuh perguruan tinggi terkemuka dunia. Pencapaian ini terjadi dalam rangkaian seleksi penerimaan mahasiswa baru untuk tahun ajaran 2026/2027.
Perempuan muda yang bernama Kalya ini membuktikan ketekunannya dengan meraih kursi di berbagai institusi pendidikan tinggi unggulan di berbagai negara. Tujuh universitas yang menerimanya meliputi University College London (UCL), King's College London, The University of Edinburgh, Kyoto University, The Hong Kong Polytechnic University, The University of Hong Kong, serta Universitas Indonesia.
Motivasi awal Kalya untuk menorehkan prestasi ini ternyata berawal dari pengamatan sederhana semasa ia duduk di bangku SMP. "Semua berawal saat saya masuk SMP dan sering melihat senior yang membuka surat penerimaan kampus mereka. Dari situlah saya terinspirasi untuk bisa seperti mereka," kata Kalya dalam keterangan resmi yang dikeluarkan SMA Binus Serpong di Jakarta, Senin (11/5).
Semangatnya semakin terasah setelah ia mendapatkan kesempatan berharga untuk mengikuti program studi banding Immersion pada tahun 2025. Program ini membawanya mengunjungi beberapa universitas unggulan di Inggris, yang semakin mengukuhkan tekadnya.
Ia mengungkapkan kegembiraannya atas kesempatan yang diperolehnya tersebut. "Saya benar-benar bersemangat berada di sana dan sangat ingin bisa belajar di universitas-universitas itu," lanjut dia.
Pencapaian ini dirasakan Kalya seperti mimpi yang kini menjadi kenyataan, mengingat kualitas akademik dan karakter yang ia bangun selama masa sekolah. Secara kuantitas, diterima di tujuh kampus ternama merupakan pencapaian yang sangat luar biasa.
Di antara daftar universitas penerima, University College London (UCL) menempati posisi spesial di benak Kalya, mengingat UCL selalu berada di posisi 10 besar universitas terbaik dunia. Selain itu, Kyoto University juga menjadi sorotan karena merupakan institusi riset paling prestisius kedua di Jepang dan Asia.
Namun, perjalanan menuju kesuksesan ini tidak selalu mudah dan penuh kepastian. Kalya mengakui bahwa ia pernah mengalami fase keraguan dan ketakutan akan kegagalan yang sempat membuatnya enggan berpartisipasi aktif di sekolah.
"Di kelas sepuluh, saya mulai keluar dari zona nyaman saya dan mulai mengambil lebih banyak kesempatan yang ada, seperti aktif di klub sekolah, kegiatan-kegiatan sekolah dan berbagai hal lainnya," ujar Kalya. Ia menambahkan bahwa pengalaman tersebut mengubah pandangannya terhadap kegagalan. "Dan dari situ saya menyadari bahwa kegagalan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sesuatu yang bisa dijadikan bahan refleksi dan pelajaran untuk masa depan," ujarnya.