DENPASAR, INFOTREN.ID — Jarum jam terus berdetak di atas kepala Pulau Dewata.
Per 1 Agustus 2026, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung selama ini menjadi "paru-paru pembuangan" terakhir bagi Denpasar dan Badung resmi menutup pintu selamanya.
Di sisi lain, proyek megah Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang digadang-gadang sebagai penyelamat, baru akan berjalan pada pertengahan 2028.
Di antara dua titik itu, terbentang jurang waktu dua tahun.
Dan di dalam jurang itu menganga satu pertanyaan yang belum ada jawabannya, kecuali dalam hitungan yang dingin dan tak terbantahkan:
Ke mana perginya 900 ton sampah organik setiap hari?
Hitungan Tanpa Ampun
Angka 900 ton bukanlah isapan jempol, bukan klaim aktivis, dan bukan pula retorika pejabat.
Badung dan Denpasar bersama-sama memproduksi antara 1.500 hingga 1.800 ton sampah per hari.
Laboratorium Tim Kerja Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber Palemahan Kedas (PSBS PADAS) bentukan Gubernur Koster—di mana Dr. Agus Dei Segu adalah salah satu anggota tim tersebut, menemukan fakta mencengangkan: 60 persen dari total itu adalah sampah organik.