INFOTREN.ID - Banjir signifikan melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang diperparah dengan jebolnya tanggul Sungai Godo sejak Sabtu (23/5) dini hari. Peristiwa bencana hidrometeorologi ini terjadi setelah struktur tanggul tidak lagi mampu menahan peningkatan volume air akibat curah hujan yang ekstrem.
Dampak langsung dari meluapnya Sungai Godo ini dilaporkan telah merendam sedikitnya 50 unit rumah tinggal. Selain itu, sekitar 50 Kepala Keluarga (KK) di Desa Tanjunganom, Kecamatan Gabus, turut terdampak langsung oleh genangan air tersebut.
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), insiden meluapnya sungai ini sempat mengganggu mobilitas warga serta melumpuhkan aktivitas sehari-hari masyarakat setempat. Upaya penanganan darurat segera dilakukan oleh pihak berwenang setelah menerima laporan mengenai kondisi ini.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa faktor utama penyebab jebolnya tanggul tersebut adalah cuaca buruk yang terjadi di sekitar wilayah Pati.
"Peristiwa ini dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi di wilayah tersebut. Akibatnya, aliran Sungai Godo meluap dan menyebabkan tanggul jebol hingga air merendam wilayah permukiman penduduk," ujar Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.
Tim Reaksi Cepat (TRC) dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati segera bergerak menuju lokasi terdampak. Mereka bekerja sama dengan tim gabungan untuk melakukan asesmen cepat terhadap situasi di lapangan.
Petugas di lokasi fokus melakukan kaji cepat dan pemantauan berkala terhadap perkembangan debit air sungai. Koordinasi intensif juga dilakukan dengan aparat desa setempat untuk memastikan bantuan dapat tersalurkan dengan baik.
Data terbaru menunjukkan bahwa meskipun sempat terjadi genangan luas, ketinggian air di wilayah terdampak kini dilaporkan mulai menunjukkan tren penurunan. Namun, kewaspadaan tetap menjadi fokus utama dalam penanganan pascabencana ini.
"Warga di sekitar aliran sungai diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem susulan yang dapat memicu kenaikan debit air secara tiba-tiba," pungkas Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.