INFOTREN.ID - Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mengumumkan adanya deteksi kasus Hantavirus di wilayah ibu kota, sebuah perkembangan yang memerlukan kewaspadaan tinggi dari semua pihak terkait kesehatan. Data terkini menunjukkan bahwa sudah teridentifikasi sebanyak tiga kasus yang dinyatakan positif terinfeksi virus tersebut.

Selain kasus positif, saat ini petugas medis juga tengah memantau secara ketat enam pasien lainnya yang masuk dalam kategori suspek Hantavirus. Langkah proaktif ini diambil untuk segera mengisolasi dan memberikan penanganan medis yang diperlukan guna mencegah penyebaran lebih lanjut.

Sebagai mekanisme mitigasi penularan yang lebih efektif, Dinkes DKI Jakarta telah menerbitkan surat edaran resmi kepada seluruh fasilitas layanan kesehatan di Jakarta. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan di semua lini layanan kesehatan yang ada.

Dilansir dari Regional, beberapa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kini secara resmi ditunjuk sebagai rumah sakit sentinel. Rumah sakit sentinel ini akan berfokus pada pemantauan intensif terhadap potensi munculnya kasus Hantavirus baru di lingkungan mereka.

Hantavirus sendiri dikenal sebagai agen penyebab penyakit serius yang dapat berujung pada komplikasi fatal, seperti sindrom paru hantavirus (HPS) dan demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS). Tingkat kematian dapat terjadi apabila infeksi virus ini tidak mendapatkan penanganan medis yang memadai dan cepat.

Penyebaran utama virus ini sangat erat kaitannya dengan keberadaan hewan pengerat, terutama tikus, sebagai reservoir utama penularan. Penularan kepada manusia sering terjadi melalui penghirupan partikel udara yang terkontaminasi oleh kotoran, urine, atau cairan tubuh tikus.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menyoroti kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap infeksi virus ini. "Mereka rentan: pekerja sanitasi, pekerja gudang, tentara di hutan, penjaga hutan, personel laboratorium, dan sebagainya," kata Dicky saat dihubungi pada Rabu (20/5/2026).

Lebih lanjut, profesi seperti pemulung dan petugas di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) juga memiliki potensi risiko penularan yang sangat tinggi karena sering berinteraksi langsung dengan lingkungan yang menjadi habitat tikus. Peneliti pusat kesehatan masyarakat dan gizi BRIN, Arif Mulyono, mengonfirmasi kekhawatiran ini terkait lokasi tertentu.

Arif Mulyono menyatakan bahwa satu lokasi menjadi perhatian khusus karena tingginya potensi penularan virus. "Sangat berisiko, terutama mungkin terkait pekerjaan sebagai pemulung. Ini mungkin berisiko tinggi tertular ortho hantavirus," ujar Arif pada Rabu (20/6/2026).