INFOTREN.ID - Letusan Gunung Dukono di wilayah Halmahera Utara, Maluku Utara, terjadi pada Jumat pagi, 8 Mei 2026, memicu kekhawatiran akan keselamatan sejumlah pendaki yang berada di sekitar gunung berapi aktif tersebut. Kejadian ini menjadi perhatian serius bagi otoritas setempat dalam upaya penanganan darurat.

Peristiwa ini menyebabkan sedikitnya 20 orang pendaki dilaporkan masih berada di area gunung saat erupsi terjadi. Jumlah tersebut terdiri dari kombinasi warga negara asing dan juga penduduk lokal dari sekitar Maluku Utara.

Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu, mengonfirmasi jumlah pendaki yang terperangkap tersebut saat diwawancarai oleh stasiun televisi. Ia merinci komposisi para pendaki yang kini berada dalam posisi siaga bencana.

"Jadi dilaporkan untuk pendaki ada 20 orang, 9 orang warga asing, sisanya adalah warga seputaran Maluku Utara," ujar Kapolres Halmahera Utara AKBP, Erlichson Pasaribu, dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV.

Saat ini, tim gabungan dari berbagai sektor telah diterjunkan untuk melakukan operasi penyelamatan dan evakuasi. Tim ini melibatkan personel dari Kepolisian Resor (Polres), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Badan SAR Nasional (Basarnas).

Namun, upaya evakuasi yang sedang berlangsung menghadapi tantangan besar karena kondisi Gunung Dukono yang masih menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan. Kondisi ini memaksa tim penyelamat untuk mempertimbangkan keselamatan mereka sendiri.

"Tim gabungan dari Polres, BPBD dan Basarnas, namun di sini ada kendala di mana gunung ini masih mengalami erupsi jadi kita juga melihat situasi. Apabila membahayakan upaya evakuasi kemungkinan masih kita tunda terlebih dulu," katanya.

Lebih lanjut, Kapolres Pasaribu juga menyampaikan informasi mengenai potensi korban jiwa akibat dahsyatnya letusan tersebut. Data awal menunjukkan adanya korban yang teridentifikasi oleh BPBD setempat.

"Berdasarkan informasi dari BPBD ada tiga korban, dua meninggal satu masih hilang," kata Erlichson.