INFOTREN.ID - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) tengah memfinalisasi rencana detail mengenai pergerakan jemaah haji menuju kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina, yang dikenal sebagai Armuzna. Persiapan matang ini dilakukan untuk menjamin proses mobilisasi berjalan secara bertahap dan terukur.

Proses pergerakan jemaah dari hotel mereka di Makkah dijadwalkan akan dimulai pada hari Senin, tanggal 25 Mei 2026 mendatang. Tahapan ini sangat krusial mengingat besarnya jumlah jemaah yang terlibat dalam rangkaian ibadah tersebut.

Skema keberangkatan menuju Arafah akan memanfaatkan sistem bus yang dibagi menjadi tiga gelombang berbeda untuk menghindari penumpukan. Gelombang pertama direncanakan berangkat pukul 06.00 Waktu Arab Saudi (WAS).

Selanjutnya, gelombang kedua akan diberangkatkan menyusul pada pukul 11.30 WAS, dan gelombang terakhir akan bergerak pada pukul 17.30 WAS. Semua gelombang ini ditargetkan tiba di Arafah sebelum tengah malam hari.

Mobilisasi akan berlanjut pada Selasa malam, 26 Mei 2026, setelah jemaah menyelesaikan inti dari ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah. Kemenhaj telah menyiapkan dua jalur keberangkatan utama dari Muzdalifah menuju Mina.

Jalur pertama adalah skema Murur yang diperuntukkan khusus bagi jemaah lansia, disabilitas, dan mereka yang masuk kategori risiko tinggi, di mana mereka akan langsung menuju Mina tanpa perlu bermalam di Muzdalifah. Sementara itu, jalur Non-Murur adalah bagi jemaah yang akan menjalani prosesi menginap di Muzdalifah.

Bagi jemaah yang mengikuti jalur Non-Murur, pergerakan dari Muzdalifah ke Mina akan dilaksanakan sepanjang malam hingga pagi hari Rabu, 27 Mei 2026. Otoritas telah menetapkan batas akhir keberangkatan dari Muzdalifah harus selesai sebelum pukul 07.00 WAS.

Dilansir dari Investor Daily, prosesi penting selanjutnya adalah melontar jumrah yang dijadwalkan berlangsung pada 10 hingga 13 Dzulhijjah, atau bertepatan dengan 27 hingga 30 Mei, dimulai dengan jumrah Aqobah. Setelah itu, pemulangan jemaah dari Mina ke hotel di Makkah akan dibagi menjadi dua fase, yaitu Nafar Awal dan Nafar Tsani.

Pemerintah secara berkelanjutan mengingatkan seluruh jemaah untuk selalu membawa kartu identitas dan menjaga kekompakan dalam kelompok terbang (kloter) masing-masing. Jemaah juga diimbau untuk tidak melakukan perjalanan sendirian dan bijak dalam mengukur tingkat ketahanan fisik mereka selama rangkaian ibadah.