INFOTREN.ID - Curah hujan dengan intensitas tinggi yang melanda wilayah Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra), telah memicu bencana banjir yang signifikan. Peristiwa ini mengakibatkan terendamnya sejumlah rumah warga yang tersebar di empat desa berbeda di wilayah tersebut.
Banjir tersebut dilaporkan telah terjadi sejak hari Jumat, 8 Mei lalu, sebelum informasi resmi mengenai dampaknya disampaikan pada hari Minggu, 10 Mei. Pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) segera memantau perkembangan situasi di lapangan.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengonfirmasi jumlah desa yang terkena dampak langsung dari musibah hidrometeorologi ini. "Sebanyak empat desa terdampak kejadian ini," ujar Abdul Muhari dalam keterangan resminya pada Minggu (10/5).
Abdul Muhari kemudian merinci secara spesifik lokasi-lokasi yang paling parah terdampak oleh luapan air bah tersebut. Empat desa tersebut meliputi Desa Wacu Laea di Kecamatan Kulisusu, Desa Lamoahi di Kecamatan Kulisusu Utara, Desa Wantulasi di Kecamatan Wakorumba Utara, dan Desa Lapandewa di Kecamatan Kulisusu Barat.
Dampak kerusakan infrastruktur dan kerugian material juga cukup terlihat akibat derasnya arus banjir. Tercatat bahwa satu unit jembatan penghubung dilaporkan putus total akibat terjangan banjir tersebut.
Selain kerusakan fisik, jumlah warga yang harus mengungsi atau terdampak langsung juga cukup besar. "Tercatat sebanyak 120 unit rumah dan 632 jiwa terdampak serta satu unit jembatan putus akibat banjir," tegasnya.
Saat ini, upaya penanganan darurat sedang dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buton Utara. Mereka bekerja bersama tim gabungan untuk melakukan peninjauan mendalam dan mulai membersihkan rumah warga yang terendam.
Dilansir dari CNN Indonesia, BPBD Kabupaten Buton Utara memastikan bahwa meskipun terjadi kerusakan, kondisi banjir di wilayah tersebut kini dilaporkan sudah mulai surut. Hal ini memberikan sedikit kelegaan bagi warga terdampak.
Menyikapi potensi bencana yang masih menghantui, BNPB mengeluarkan imbauan penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat. "BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir, tanah longsor dan angin kencang," kata Abdul Muhari.