INFOTREN.ID - Penyelidikan mendalam segera dilaksanakan oleh Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Jember menyusul adanya dugaan kasus keracunan makanan yang menimpa sejumlah siswa Taman Kanak-Kanak (TK) di Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember. Peristiwa ini terjadi pada hari Kamis, 21 Mei 2026, dan memerlukan respons cepat dari otoritas kesehatan.
Petugas dari BPOM Jember dilaporkan langsung menuju fasilitas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertanggung jawab menyediakan hidangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut. Lokasi dapur SPPG yang didatangi berada di Jalan Teratai, sebagai titik sentral pengolahan makanan.
Konfirmasi mengenai penelusuran taktis ini disampaikan oleh Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda BPOM Jember, Yusita Harminingsih, yang membenarkan pergerakan tim ke lokasi pengolahan pangan.
"Petugas dari Balai POM di Kabupaten Jember hari ini sudah melakukan penelusuran ke SPPG terkait yang mengolah makanan bagi peserta terdampak," kata Yusita Harminingsih, Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda BPOM Jember.
Saat ini, pihak BPOM masih menantikan hasil investigasi lanjutan untuk memastikan penyebab pasti dari munculnya gejala keracunan pada para siswa yang menjadi korban. Sementara itu, pengambilan sampel makanan secara resmi di lapangan telah diserahkan kepada Dinas Kesehatan setempat.
Fokus utama BPOM dalam investigasi ini adalah mengupas tuntas prosedur pengolahan makanan yang diterapkan di dapur MBG tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi potensi kesalahan operasional.
"BPOM sendiri memilih fokus untuk menguliti prosedur pengolahan makanan di dapur MBG tersebut. Jadi, penelusuran difokuskan pada cara atau prosedur pengolahan makanan," ujar Yusita Harminingsih, Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda BPOM Jember.
Yusita juga menyoroti bahwa program MBG memiliki risiko keracunan yang tinggi karena melibatkan produksi pangan dalam skala besar dan memerlukan distribusi cepat ke banyak lokasi secara bersamaan. Kompleksitas ini meningkatkan potensi masalah jika SOP tidak dijalankan dengan baik.
"Ini proses yang kompleks, mulai dari pengolahan dalam jumlah besar, distribusi ke lokasi penerima, hingga jeda waktu antara pemasakan dan konsumsi yang berpotensi tidak sesuai SOP," papar Yusita Harminingsih, Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda BPOM Jember.