INFOTREN.ID - Aktivitas seismik mengguncang Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Jumat pagi, ditandai dengan serangkaian gempa bumi dangkal. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengonfirmasi kejadian rangkaian guncangan tersebut.

Gempa-gempa yang terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat ini menunjukkan adanya dinamika tektonik yang cukup intens di wilayah tersebut. Intensitas getaran tercatat dalam skala magnitudo yang beragam, mencerminkan kondisi geologis yang aktif.

Kekuatan gempa bumi yang tercatat bervariasi, berkisar antara magnitudo 3,1 hingga mencapai puncaknya di magnitudo 3,7. Magnitudo ini tergolong dangkal, yang seringkali terasa lebih signifikan bagi masyarakat di permukaan.

Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Sumawan, menjadi pihak yang memberikan penjelasan resmi mengenai penyebab dari rangkaian aktivitas seismik ini. Penjelasan beliau berfokus pada struktur geologi bawah permukaan Lombok.

Menurut penjelasan dari BMKG, secara geologis terdapat dua struktur sesar utama yang lokasinya berdekatan dengan pusat episentrum gempa. Kedua sesar ini menjadi fokus utama dalam analisis potensi pemicu gempa.

Kedua struktur sesar potensial yang diidentifikasi berada dalam jarak berdekatan dengan lokasi episentrum rangkaian gempa tersebut adalah Sesar Selat Lombok dan Sesar Batu Jae. Kedua jalur patahan ini merupakan zona rawan gempa.

"Secara geologis, terdapat dua struktur sesar utama yang berada dalam jarak berdekatan dengan lokasi episentrum rangkaian gempa tersebut. Kedua sesar yang dimaksud adalah Sesar Selat Lombok dan Sesar Batu Jae," jelas Sumawan.

Dilansir dari JAKARTAHYPE.COM, otoritas BMKG terus memantau perkembangan aktivitas seismik pasca rentetan gempa dangkal tersebut. Pemantauan intensif dilakukan untuk mendeteksi potensi gempa susulan di zona rawan.

Hal ini menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat Lombok terhadap potensi gempa bumi, mengingat adanya dua sesar aktif yang berada di sekitar area tersebut. Informasi ini diharapkan dapat meningkatkan mitigasi risiko bencana.