DENPASAR, INFOTREN.ID — Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, Bali sebenarnya tidak kekurangan babi. Justru sebaliknya.

Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali menunjukkan ketersediaan ternak babi mencapai 90.733 ekor. Sementara kebutuhan yang diperkirakan akan dipotong selama periode Galungan dan Kuningan hanya sekitar 17.248 ekor.

Artinya, Bali memiliki surplus sekitar 73.485 ekor babi.

Namun ada satu hal yang tidak ikut turun meski stok berlimpah: harga.

Di tingkat peternak, harga babi hidup saat ini berada di kisaran Rp38.800 per kilogram dan diperkirakan terus bergerak naik mendekati puncak perayaan Galungan.

Bagi banyak keluarga di Bali, kondisi ini mungkin terasa paradoks. Pasokan melimpah, tetapi harga tetap meningkat.

Menurut I Wayan Sunada, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, kondisi tersebut terjadi karena harga babi tidak berada dalam skema pengendalian pemerintah seperti beras atau komoditas pangan pokok lainnya.

"Pemerintah tidak dapat menetapkan harga pada ternak babi karena ternak babi tidak termasuk makanan pokok. Harga akan dipengaruhi oleh supply dan demand," ujar I Wayan Sunada

Dengan kata lain, semakin tinggi permintaan menjelang hari raya, semakin besar kemungkinan harga ikut terdorong naik, meskipun stok sebenarnya tersedia dalam jumlah besar.

Galungan Selalu Mengubah Peta Permintaan