INFOTREN.ID - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, baru-baru ini menyuarakan keprihatinannya mengenai kerentanan tokoh publik terhadap informasi yang belum terverifikasi di era digital. Hal ini terjadi setelah adanya tudingan yang dilontarkan oleh Amien Rais mengenai Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya.
Peristiwa ini bermula dari tudingan yang dilontarkan Amien Rais yang kemudian terbukti bersumber dari konten di media sosial yang manipulatif dan mengandung hoaks. Qodari menilai bahwa tokoh senior dan akademisi seperti Amien Rais menjadi korban dari konten digital yang tidak akurat tersebut.
"Kalau saya prihatin ya, setelah melihat video Pak Amien Rais itu. Prihatinnya itu adalah Pak Amien Rais sebagai tokoh, sebagai akademisi, sebagai profesor doktor, telah menjadi korban dari hoaks," kata Qodari dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (2/5).
Menurut Qodari, dasar tudingan yang ditujukan kepada Teddy Indra Wijaya berasal dari interpretasi yang keliru terhadap sebuah konten video yang beredar luas. Video tersebut diklaim berjudul "Aku Bukan Teddy" dan disalahartikan sebagai pernyataan otentik.
Qodari menjelaskan bahwa video tersebut disalahartikan oleh Amien Rais sebagai konten yang menampilkan Ibu Titiek Soeharto sebagai penyanyi lagu tersebut, padahal kenyataannya tidak demikian. Kesalahan interpretasi ini menjadi titik awal penyebaran informasi yang tidak benar mengenai Seskab.
"Karena dasar penilaian atau tudingan bahwa Pak Seskab, Pak Teddy adalah gay, itu adalah sebuah akun yang di dalamnya berisi lagu berjudul Aku Bukan Teddy, yang dianggap oleh Pak Amien Rais bahwa yang menyanyi itu adalah Ibu Titiek (Soeharto)," lanjutnya, menjelaskan dasar kesalahpahaman tersebut.
Ia menegaskan bahwa video yang menjadi rujukan tudingan tersebut tidak memiliki dasar faktual yang kuat. Penyanyi dalam video itu bukanlah Titiek Soeharto, dan visual yang ditampilkan hanyalah kolase gambar dari berbagai sumber yang tidak relevan dengan isi lagu.
Qodari menambahkan bahwa konten digital yang disebarkan tersebut sebenarnya sudah mencantumkan keterangan bahwa isinya adalah materi hiburan, bukan fakta yang sesungguhnya. Hal ini menjadi contoh nyata betapa pentingnya kehati-hatian dalam menyaring informasi di ruang digital.
Lebih lanjut, Kepala Bakom RI ini melihat kasus tersebut sebagai ilustrasi bahaya hoaks yang memanfaatkan perkembangan teknologi, termasuk potensi penggunaan kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini mampu menyesatkan bahkan tokoh-tokoh senior.