INFOTREN.ID - Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memasuki fase genting setelah Washington secara resmi menyampaikan responsnya terhadap usulan perdamaian yang diajukan oleh Teheran. Langkah ini terjadi pada hari Minggu, 17 Mei 2026, dengan proposal balasan yang disampaikan oleh pihak AS.
Peningkatan ketegangan ini bermula dari penolakan tegas Presiden AS Donald Trump terhadap proposal perdamaian berisi 14 poin yang sebelumnya disampaikan oleh Iran pada hari Jumat. Penolakan tersebut menandai memanasnya kembali dialog bilateral kedua negara.
Menurut informasi yang beredar di media Iran, proposal balasan dari AS tersebut memuat serangkaian tuntutan yang dinilai sangat berat dan membutuhkan pertimbangan mendalam dari pihak Teheran. Hal ini menunjukkan adanya jurang perbedaan signifikan dalam pandangan kedua belah pihak mengenai jalan menuju stabilitas.
Dilansir dari Media Indonesia, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa respons terbaru yang diajukan oleh Teheran terhadap inisiatif AS sebelumnya sama sekali tidak dapat diterima oleh Washington. Pernyataan ini mempertegas posisi keras AS dalam negosiasi yang sedang berlangsung.
Usulan baru dari Amerika Serikat, yang dihimpun dari Sputnik dan RIA Novosti, mencakup kewajiban bagi Iran untuk menyerahkan sebanyak 400 kilogram uranium yang telah diperkaya kepada Washington. Ini adalah salah satu poin kunci dalam paket tuntutan balasan mereka.
Selain itu, AS juga mendesak agar Iran mencabut seluruh permohonan yang berkaitan dengan ganti rugi dan kompensasi yang selama ini diajukan oleh Teheran. Tuntutan ini menambah beban negosiasi yang harus dihadapi oleh pemerintah Iran.
Salah satu ketentuan krusial lainnya adalah pembatasan operasional fasilitas nuklir Iran, di mana hanya satu fasilitas saja yang diizinkan untuk tetap beroperasi di bawah kesepakatan yang diajukan AS. Poin ini langsung menyasar inti program nuklir Iran.
Tuntutan penting lainnya adalah pencabutan permintaan Iran terkait pencairan 25 persen aset mereka yang saat ini masih berada dalam status pembekuan oleh pihak Amerika Serikat. Persyaratan ini menjadi penentu dalam pembicaraan ekonomi kedua negara.
Poin terakhir dalam proposal lima poin AS secara eksplisit menegaskan bahwa penghentian konflik secara total bergantung sepenuhnya pada hasil negosiasi yang menyangkut seluruh persyaratan yang telah mereka ajukan. Ini mengikat gencatan senjata pada penerimaan semua syarat.