INFOTREN.ID - Sebuah video viral yang beredar belakangan ini telah menimbulkan keresahan publik terkait klaim tingginya kasus HIV-AIDS di kalangan pelajar Kabupaten Sidoarjo. Informasi tersebut mengklaim adanya 522 pelajar yang terpapar virus mematikan tersebut.

Isu ini sontak menjadi sorotan di berbagai platform digital dan memicu kekhawatiran luas mengenai kesehatan generasi muda. Perhatian publik terpusat pada dominasi kasus yang disebut-sebut terjadi pada kelompok usia pelajar.

Menanggapi informasi yang berkembang pesat dan meresahkan tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo segera memberikan klarifikasi resmi. Pihak Dinkes menegaskan bahwa angka yang beredar di masyarakat tidak sesuai dengan data resmi yang mereka miliki.

Pihak Dinkes menjelaskan bahwa terdapat perbedaan metode pencatatan antara mereka dengan Yayasan Delta Crisis Center (DCC). Perbedaan ini diidentifikasi sebagai salah satu faktor utama munculnya disparitas angka yang kemudian menjadi perbincangan publik luas.

"Angka 522 pelajar yang terpapar HIV-AIDS di Sidoarjo yang beredar saat ini tidaklah benar," tegas Dinkes Sidoarjo.

Pernyataan ini bertujuan untuk meluruskan informasi yang beredar dan mencegah kekhawatiran yang tidak perlu di kalangan masyarakat. Dinkes menekankan pentingnya merujuk pada data resmi yang terverifikasi.

Pihak Yayasan Delta Crisis Center (DCC) sendiri memiliki metode pendataan yang berbeda dengan Dinkes Kabupaten Sidoarjo. Perbedaan ini mencakup cara pengumpulan data, definisi kasus, dan periode pencatatan yang digunakan.

"Perbedaan metode pencatatan antara Dinkes dan Yayasan Delta Crisis Center (DCC) menjadi salah satu faktor utama munculnya disparitas angka tersebut," ujar perwakilan Dinkes Sidoarjo.

Klarifikasi ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih akurat kepada publik mengenai situasi sebenarnya terkait kasus HIV-AIDS di kalangan pelajar Sidoarjo. Dinkes berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan dan penanganan yang tepat.