INFOTREN.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi hujan lebat yang diperkirakan masih akan terjadi di berbagai wilayah Indonesia pada awal minggu ini. Peringatan ini dikeluarkan menyusul tingginya curah hujan yang tercatat pada periode sebelumnya.

Kondisi cuaca ekstrem ini dipicu oleh sejumlah fenomena atmosfer yang terdeteksi masih aktif di sekitar kepulauan Nusantara. BMKG telah merilis prakiraan cuaca spesifik untuk periode 22 hingga 28 Mei mendatang.

Pada awal pekan sebelumnya, beberapa daerah memang telah mencatatkan curah hujan yang signifikan. Jawa Barat menjadi wilayah dengan intensitas hujan tertinggi, mencapai 133,1 mm per hari.

Selain Jawa Barat, daerah lain yang mengalami curah hujan cukup tinggi termasuk Sulawesi Selatan dengan 112,8 mm per hari, Jawa Timur (105,2 mm), dan Sumatra Utara (105,0 mm). DKI Jakarta mencatat 68,6 mm, Papua Tengah 63,6 mm, Kalimantan Barat 62,1 mm, dan Jambi 54,6 mm.

BMKG menjelaskan bahwa alasan utama potensi hujan lebat ini adalah kombinasi dari beberapa faktor meteorologis yang saling mendukung. Faktor-faktor tersebut termasuk aktivitas gelombang atmosfer, tingginya tingkat kelembapan udara, serta pola angin yang kondusif bagi pertumbuhan awan hujan.

"Kombinasi aktivitas gelombang tropis, pola sirkulasi, belokan angin, dan kelembapan udara yang tinggi dapat mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah,” tulis BMKG dalam analisis yang dirilisnya.

Meskipun kondisi El Niño saat ini masih berlangsung, yang umumnya cenderung mengurangi curah hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian timur, kondisi atmosfer saat ini dinilai masih sangat mendukung pembentukan awan hujan. Analisis terbaru menunjukkan ENSO berada pada fase El Niño Condition dengan indeks NINO 3.4 sebesar +0,68 dan SOI -11,5.

Salah satu pendorong utama hujan saat ini adalah aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang diperkirakan aktif di bagian tengah dan timur Indonesia. Aktivitas ini mencakup area mulai dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Lebih lanjut, BMKG juga memantau adanya beberapa gelombang atmosfer lainnya yang berkontribusi pada peningkatan pasokan uap air. Gelombang tersebut meliputi Gelombang Kelvin, Rossby Ekuatorial, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) yang memicu pembentukan awan hujan lebih intens.