INFOTREN.ID - Fenomena iklim global El Nino dengan intensitas kuat berpotensi besar melanda dunia pada penghujung tahun 2026, menimbulkan kekhawatiran akan dampak ekstrem seperti kekeringan dan kenaikan suhu global.
Kondisi ini ditandai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah hingga timur, yang menurut prakiraan NOAA pada 14 Mei 2026 memiliki peluang berkembang signifikan antara Mei hingga Juli tahun ini.
Prakiraan tersebut mengindikasikan bahwa potensi El Nino kali ini bisa mencapai kategori "Super El Nino," yang berarti kenaikan suhu permukaan laut melampaui ambang batas 2 derajat Celsius di atas normal.
European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) bahkan memprediksi lonjakan suhu laut bisa mencapai 3 derajat Celsius di atas normal pada November mendatang, mengingatkan pada dampak intensitas ekstrem seperti peristiwa tahun 2015–2016.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Deputi Bidang Klimatologi, Ardhasena Sophaheluwakan, menegaskan bahwa pemantauan intensif terus dilakukan untuk mengantisipasi dampak spesifik di Indonesia.
"BMKG memprediksi peluang intensitas El Nino mencapai kategori lemah sebesar 100 persen, kategori moderat sebesar 86 persen, dan kategori kuat sebesar 22 persen," ujar Ardhasena Sophaheluwakan.
Bagi Indonesia, dampak El Nino paling terasa saat musim kemarau, yaitu antara bulan Mei hingga Oktober, di mana curah hujan cenderung menurun drastis dan meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi.
"Yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan, khususnya di wilayah gambut yang sangat mudah terbakar saat musim kering berkepanjangan," jelas Ardhasena Sophaheluwakan.
Kekhawatiran mengenai krisis pangan global muncul kembali mengingat sejarah kelam abad ke-19, di mana El Nino menyebabkan bencana kelaparan yang menewaskan puluhan juta orang akibat gagal panen simultan di berbagai benua.