INFOTREN.ID - PT Telkom Indonesia (TLKM) tengah mempersiapkan langkah korporasi signifikan terkait struktur permodalan di pasar sekuritas nasional maupun internasional. Langkah ini merupakan bagian dari strategi manajemen untuk memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.
Perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia tersebut secara resmi mengumumkan kesiapan mereka untuk melaksanakan program pembelian kembali saham atau yang dikenal dengan istilah buyback. Keputusan ini diharapkan dapat memperkuat fundamental harga saham di bursa.
Adapun alokasi dana yang telah disiapkan oleh TLKM untuk merealisasikan aksi korporasi ini mencapai nominal fantastis, yaitu sebesar Rp 1 triliun. Dana tersebut akan digunakan secara bertahap sesuai mekanisme pasar yang berlaku.
Program buyback ini tidak hanya mencakup saham biasa yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI), tetapi juga mencakup instrumen representasi saham di pasar global. Secara spesifik, pembelian kembali ini juga akan menyasar American Depositary Receipt (ADR).
Langkah strategis ini diambil oleh manajemen TLKM setelah melalui kajian mendalam mengenai kondisi pasar dan valuasi perusahaan saat ini. Pembelian kembali saham seringkali dilakukan ketika manajemen menilai harga pasar saham sedang berada di bawah nilai intrinsiknya.
Tujuan utama dari dilakukannya pembelian kembali saham adalah untuk memberikan sinyal positif kepada investor mengenai kepercayaan diri manajemen terhadap prospek bisnis perusahaan ke depan. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar.
Dilansir dari sumber informasi terkait, manajemen mengonfirmasi besaran anggaran yang telah disiapkan untuk manuver pasar ini. "TLKM berencana melakukan pembelian kembali (buyback) saham, termasuk American Depositary Receipt, dengan anggaran sebesar Rp 1 triliun," ujar perwakilan perusahaan.
Keputusan untuk menyerap kembali saham di pasar ini menunjukkan komitmen TLKM dalam mengelola struktur permodalannya secara efisien. Program ini merupakan upaya berkelanjutan dalam rangka meningkatkan earning per share (EPS) bagi investor yang tetap mempertahankan kepemilikan saham.