INFOTREN.ID - Pergerakan nilai tukar Rupiah pada pembukaan perdagangan akhir pekan ini, Jumat (08/05/2026), menunjukkan adanya sedikit pelemahan setelah sebelumnya sempat mencatatkan tren penguatan sehari sebelumnya. Mata uang Garuda ini kembali bergerak memasuki zona merah dalam dinamika pasar keuangan domestik.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun dari Refinitiv pada hari tersebut, Rupiah tercatat dibuka dengan pelemahan tipis sebesar 0,06%. Posisi pembukaan mata uang nasional berada pada level Rp17.340 per dolar Amerika Serikat.

Koreksi nilai tukar ini terjadi setelah sehari sebelumnya, yaitu Kamis (07/05/2026), Rupiah sempat mampu menutup perdagangan dengan catatan positif. Pada penutupan hari Kamis, Rupiah berhasil menguat dan berada di level Rp17.330 per dolar AS.

Meskipun terjadi fluktuasi harian, proyeksi jangka menengah menunjukkan bahwa Rupiah diperkirakan akan mampu mempertahankan posisinya di bawah ambang batas psikologis Rp18.000 per dolar AS. Hal ini menjadi fokus utama para analis pasar keuangan.

Proyeksi tersebut muncul meskipun terdapat antisipasi adanya tekanan pelemahan yang mungkin muncul dan mendominasi pasar selama periode Kuartal II tahun 2026 mendatang. Tekanan ini perlu diwaspadai oleh pelaku pasar.

Dilansir dari BISNISMARKET.COM, para analis memprediksi bahwa fundamental ekonomi domestik akan menjadi bantalan utama yang menahan depresiasi lebih lanjut. Stabilitas ini menjadi kunci dalam menghadapi gejolak eksternal.

Sebagai contoh, salah satu analis menyatakan bahwa "Rupiah diprediksi bertahan di bawah Rp18.000 meski ada tekanan pelemahan Kuartal II 2026," ujar Analis Konten. Pernyataan ini menggarisbawahi optimisme hati-hati dari para pengamat pasar.

Kinerja Rupiah pada akhir pekan ini menjadi indikator penting mengenai sentimen pasar menjelang periode yang diprediksi lebih menantang di kuartal kedua tahun 2026. Evaluasi terhadap data ekonomi terkini menjadi krusial.

Pergerakan intraday seperti yang terjadi pada Jumat pagi ini menunjukkan volatilitas wajar yang perlu direspons dengan strategi manajemen risiko yang solid oleh investor. Pemantauan kebijakan moneter global juga tetap menjadi variabel penting.