INFOTREN.ID - P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) memberikan 5 poin catatan krusial dalam rangka refleksi Hari Pendidikan Nasional 2026.
Pertama, rendahnya kompetensi literasi dan numerasi anak-anak Indonesia yang jauh di bawah rata-rata negara di dunia. Tergambar dari hasil PISA (2022) Indonesia, untuk aspek Numerasi meraih skor 366 (sementara itu rata-rata dunia 472), aspek Literasi meraih skor 359 (rata-rata dunia 476), dan aspek Sains meraih skor 383 (rata-rata dunia 485).
“Bahkan untuk bidang Literasi, pada 2022 Indonesia alami skor terendah sepanjang sejarah keikutsertaan PISA. Pertama ikut tahun 2000 kita meraih skor 371, tahun 2022 malah nyungsep menjadi 359, rasanya sangat mengkhawatirkan dan memilukan,” terang Satriwan Salim, Koordinator Nasional P2G dalam keterangan tertulisnya Minggu, 3 Mei 2026.
PT MBI Gandeng Disnakertrans Muba Seleksi Ketat 25 Petugas Keamanan Prioritas Warga Lokal
Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) untuk jenjang SMA/sederajat dan SMP/sederajat juga rendah (2026). Untuk SMA, potret mutu hasil belajar anak-anak sangat rendah, tergambar dari nilai rata-rata pelajaran Bahasa Indonesia 55,38, bahasa Inggris 24,93, Matematika 36,10. Untuk pelajaran IPS seperti Ekonomi 31,68 dan IPA seperti Fisika 37,65.
Rendahnya mutu hasil belajar akan memperburuk kualitas sumber daya manusia Indonesia, menurunkan daya saing, produktivitas angkatan kerja di masa mendatang termasuk PDB, seperti laporan Bank Dunia.
Bank Dunia dalam Human Capital Indeks (2020), memproyeksikan anak-anak Indonesia yang lahir 2020-an hanya mampu menggunakan potensi produktivitasnya sebesar 54% pada 2038 nanti, jauh di bawah Singapura sebesar 88%, dan rata-rata dunia 56%. Posisi Indonesia juga di bawah Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Kondisi ini menghambat cita-cita menuju Generasi Emas 2045.
Peluang Emas Mahasiswi Baru UGM 2026: Beasiswa STEM Kolaborasi Internasional Telah Dibuka
“Jangan sampai menuju 2045, anak-anak kita badannya sehat karena MBG, tapi nalarnya rusak karena tidak mampu memahami apa yang dibaca dan lemah dalam memahami atau menghitung angka-angka, ini generasi paradoks namanya,” kata Satriwan.
Kedua, P2G mendesak pemerintah pusat fokus pembenahan "Lima Pilar Tata Kelola Guru Nasional", yaitu: aspek kompetensi, kesejahteraan, rekrutmen, distribusi, dan perlindungan guru. Lima pilar ini sangat krusial menjadi prioritas pemerintah, agar berbagai kebijakan pendidikan saling menopang satu sama lain.
Satriwan melanjutkan bahwa keberadaan SMA Unggul Garuda, Sekolah Rakyat, revitalisasi atau renovasi sekolah, termasuk MBG, akan sia-sia dampakanya jika rendahnya kemampuan dasar literasi-numerasi anak, rendahnya kompetensi dan kesejahteraan guru Indonesia tidak serius dibenahi.