INFOTREN.ID - Profesi pembersih kaca gedung pencakar langit di Jakarta memang menarik perhatian karena iming-iming penghasilan yang bisa mencapai belasan juta rupiah per proyek. Namun, di balik kemewahan yang mereka bersihkan, para pekerja rope access ini menghadapi realitas hidup yang penuh ketidakpastian finansial dan ancaman keselamatan setiap hari.
Pekerja pembersih kaca, yang menggunakan metode kerja di ketinggian dengan sistem tali dan peralatan khusus, umumnya bekerja dengan sistem lepas atau freelance. Hal ini menyebabkan pemasukan mereka sangat bergantung pada ketersediaan proyek yang masuk.
Rizki Rianto, seorang pekerja rope access dengan pengalaman 10 tahun, mengungkapkan bahwa penghasilan tidak menentu setiap bulannya. "Penghasilan kami enggak tetap tiap bulan. Kalau ada proyek baru kerja, kalau lagi sepi ya enggak ada pemasukan," ujar Rizki Rianto, pembersih kaca gedung tinggi.
Rizki menceritakan bahwa untuk bisa mengantongi lisensi dan bekerja secara profesional, ia harus menempuh pelatihan intensif selama tiga hingga empat tahun. Meskipun demikian, proyek yang didapat dalam sebulan seringkali hanya satu hingga dua kali, dan bisa sangat sepi menjelang momen tertentu seperti Lebaran.
Sistem pembayaran yang diterapkan adalah bagi hasil dari proyek yang dikerjakan, bukan gaji tetap dari perusahaan. "Kami sistemnya bagi hasil. Jadi bukan gaji tetap perusahaan," ujar Rizki Rianto, pembersih kaca gedung tinggi.
Selain masalah pendapatan, risiko pekerjaan ini sangat tinggi, terutama ketika harus berhadapan dengan kondisi cuaca ekstrem atau desain bangunan yang unik. Fajar Maulana, rekan pekerja lainnya, mengakui bahwa awalnya rasa takut sempat menghantui saat bergantung pada tali di ketinggian.
"Biasanya kalau kondisi gedung overhang, jadi bentuk bangunannya menjorok dan enggak rata. Itu yang bikin takut," ujar Fajar Maulana, pekerja rope access.
Fajar menambahkan bahwa rasa takut tersebut perlahan teratasi setelah ia menguasai prosedur keselamatan dan mahir dalam penggunaan alat kerja khusus yang digunakan. Para pekerja ini juga dituntut mengeluarkan biaya besar untuk peralatan keselamatan yang nilainya bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Rizki menambahkan bahwa satu set lengkap alat kerja yang dibutuhkan bisa mencapai sekitar Rp 25 juta, dan biaya tersebut harus ditanggung sendiri. "Dicicil dari hasil proyek," tutur Rizki Rianto, pembersih kaca gedung tinggi.