INFOTREN.ID - Tiyo Ardianto, sosok yang pernah memimpin Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas Gadjah Mada (UGM), kini menghadapi dugaan serangkaian tindakan teror yang mengancam keselamatannya. Peristiwa ini menjadi sorotan publik mengingat latar belakang Tiyo sebagai aktivis mahasiswa.
Tindakan intimidasi yang dialami Tiyo diduga kuat bersumber dari aktivitasnya sebagai seorang aktivis serta berbagai kritik keras yang selama ini ia sampaikan kepada pemerintah. Hal ini mengindikasikan adanya potensi ancaman terhadap kebebasan berekspresi.
Peristiwa teror paling mutakhir yang menimpa Tiyo melibatkan penemuan perangkat pelacak elektronik. Perangkat tersebut diketahui terpasang secara tersembunyi pada bagian bawah mobil yang sedang ia gunakan untuk keperluan mobilitasnya.
Mobil yang menjadi lokasi penemuan alat sadap tersebut merupakan kendaraan pinjaman milik salah satu kerabatnya. Penemuan ini menambah daftar panjang ketegangan yang dirasakan oleh mantan pimpinan mahasiswa tersebut.
Penemuan alat pelacak elektronik ini terjadi tidak lama setelah Tiyo Ardianto berpartisipasi aktif dalam unjuk rasa besar yang dikenal dengan istilah Gejayan Memanggil. Keikutsertaan dalam aksi ini diduga menjadi pemicu rangkaian teror yang dialaminya.
Aksi demonstrasi Gejayan Memanggil yang menjadi titik balik dalam rangkaian teror ini diselenggarakan di Yogyakarta. Demonstrasi tersebut berlangsung pada hari Sabtu, 13 Juni 2026, dan menjadi momentum penting dalam kronologi kejadian.
Dilansir dari JAKARTAHYPE.COM, Tiyo Ardianto dilaporkan mengalami ancaman yang mengancam keselamatannya akibat aktivitasnya tersebut. Tindakan teror ini menunjukkan adanya upaya pemantauan terhadap pergerakannya.
"Tiyo Ardianto, yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas Gadjah Mada (UGM), dilaporkan baru-baru ini mengalami serangkaian tindakan teror yang mengancam keselamatannya," demikian kutipan mengenai situasi yang dialami Tiyo.
"Tindakan intimidasi ini diduga terkait dengan aktivitasnya sebagai aktivis dan kritik yang disampaikannya terhadap pemerintah," demikian keterangan mengenai dugaan motif di balik teror tersebut.