INFOTREN.ID - Seorang lansia bernama Gim Suyati (73) akhirnya dapat kembali ke rumahnya di Desa Adinuso, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pada Kamis, 14 Mei 2026. Kepulangan ini menjadi akhir penantian panjang keluarganya setelah kehilangan kontak selama lebih dari tiga dekade saat Suyati merantau di Malaysia.
Perjalanan pulang ini mengakhiri masa sulit bagi Suyati yang selama 31 tahun berada di Malaysia tanpa dokumen keimigrasian yang sah. Ia diketahui menjadi korban penipuan oleh agen tidak resmi saat pertama kali berangkat pada tahun 1995.
Upaya pencarian oleh keluarga telah dilakukan berulang kali, termasuk mengirim Anto (52), anak kedua Suyati, untuk bekerja di Johor, Malaysia dari tahun 2002 hingga 2004. Namun, upaya tersebut dan pencarian gelombang kedua pada tahun 2005 hingga 2008 tidak membuahkan hasil, membuat keluarga sempat putus asa.
Titik terang baru muncul sekitar 10 bulan lalu ketika Suyati bertemu dengan Kamarudin Harun, seorang warga negara Malaysia yang kemudian berinisiatif membantu mencari keluarga Suyati di Indonesia. Kamarudin bahkan datang langsung ke Desa Adinuso pada 14 April untuk memverifikasi identitas dan menjalin kontak virtual antara Suyati dan anak-anaknya.
Anto menuturkan bahwa komunikasi dengan ibunya sempat terjalin selama dua tahun pertama melalui telepon umum, sebelum akhirnya terputus total pada tahun 1997. "Pada 1997, ibu sempat berpamitan hendak pulang ke Indonesia, tetapi tak pernah tiba di rumah. Sejak saat itu, keluarga kehilangan kontak dan tak pernah mengetahui keberadaannya," tutur Anto.
Karena tidak adanya dokumen resmi, proses pemulangan Suyati menghadapi kendala administrasi yang signifikan. Anto harus mengurus penerbitan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) di Kementerian Hukum di Jakarta, sambil memanfaatkan program pemutihan denda imigrasi Malaysia.
Anto mengaku pernah berkeliling terminal di Malaysia saat libur demi mencari ibunya, namun tidak membuahkan hasil. "Kalau libur, saya habiskan waktu di terminal, seharian, melihat orang lalu lalang. Barangkali ada ibu di sana. Tapi sampai empat tahun tidak ketemu," katanya.
Saking lamanya hilang kabar, pihak keluarga sempat meyakini bahwa Suyati telah meninggal dunia. "Kami berdoa, bahkan menggelar doa bersama tahlil untuk ibu, dari seminggu, 40 hari hingga seribu hari," ucap Anto.
Pertemuan dengan Kamarudin Harun menjadi kunci terbukanya jalan komunikasi yang terputus lama tersebut. "Cik Kamarudin Harun orang Malaysia asli, beliau usia sebaya dengan ibu saya. Setelah ketemu ngobrol akhirnya jadi sahabat, sering ketemu berbagi cerita. Akhirnya mereka akrab dan orang Malaysia sering pergi ke kontrakan ibu, sampai suatu ketika beliau memutuskan bulan April mencari keluarganya ibu ke Indonesia," jelas Anto.