INFOTREN.ID - Situasi politik dan sosial di Bolivia mencapai titik genting setelah gelombang demonstrasi yang telah berlangsung hampir satu bulan penuh, memicu kekhawatiran serius di kalangan pemerintah. Presiden Rodrigo Paz menyampaikan peringatan keras mengenai kondisi negara pada hari Rabu, 27 Mei 2026.

Aksi unjuk rasa yang masif ini telah mengakibatkan dampak signifikan terhadap kehidupan sehari-hari warga, terutama terganggunya rantai pasokan vital. Kelangkaan parah dilaporkan terjadi pada pasokan kebutuhan dasar seperti pangan, bahan bakar, serta obat-obatan esensial di banyak wilayah.

Protes ini dipicu oleh tuntutan dari kelompok pekerja berpenghasilan rendah dan mayoritas masyarakat Pribumi yang mendesak agar Presiden Paz mengundurkan diri dari jabatannya. Krisis ini menjadi tantangan besar bagi pemerintahan Paz yang baru menjabat selama enam bulan dengan mengusung kebijakan ekonomi berhaluan tengah-kanan.

Dalam sebuah pidato publik yang diadakan di La Paz, Presiden Paz menegaskan urgensi pemulihan ketertiban umum. Ia menyatakan, "Negara ini membutuhkan ketertiban, dan sedang mencapai titik kritis," ujar Rodrigo Paz, Presiden Bolivia.

Menyikapi eskalasi situasi tersebut, Kongres Bolivia telah mengambil langkah untuk memberikan landasan hukum bagi pemerintah dalam merespons krisis. Pada hari Selasa, 26 Mei 2026, Kongres mencabut pembatasan yang sebelumnya menghalangi presiden untuk mengumumkan status darurat negara.

Presiden Paz juga mempertegas sikap tegas pemerintah terhadap upaya yang dianggap merusak persatuan bangsa. Ia menyampaikan ancaman serius dengan mengatakan, "Siapa pun yang ingin menghancurkan bangsa ini harus berhadapan dengan presiden ini dan seluruh kekuatan Konstitusi," tegas Rodrigo Paz, Presiden Bolivia.

Pemerintah juga telah memastikan adanya dukungan penuh dari institusi keamanan untuk melindungi personel kepolisian dan militer yang bertugas menjaga ketertiban di tengah meningkatnya ketegangan. Dukungan ini disuarakan bersamaan dengan aksi solidaritas yang muncul dari berbagai elemen masyarakat.

Sebagai bentuk dukungan moral, ribuan perempuan Pribumi melakukan aksi jalan kaki melintasi La Paz pada Hari Ibu, menunjukkan solidaritas mereka terhadap para pekerja transportasi yang sedang melakukan mogok kerja. Aksi ini menambah lapisan kompleksitas dalam meredam gejolak yang terjadi.

Awal mula demonstrasi pada awal bulan Mei ini berfokus pada tuntutan kenaikan upah, jaminan stabilitas pasokan bahan bakar, dan penerapan manajemen ekonomi yang sehat dari serikat pekerja. Namun, tuntutan tersebut kini telah meluas menjadi gerakan protes berskala besar yang menantang otoritas pemerintah.