INFOTREN.ID - Pada penutupan perdagangan hari Senin, 4 Mei 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan penguatan tipis di tengah berbagai dinamika pasar. Penguatan ini menunjukkan adanya ketahanan dari pasar saham domestik Indonesia pada hari tersebut.

IHSG diketahui menutup sesi perdagangan dengan berada di level psikologis 6.971 poin. Level penutupan ini menjadi indikator penting mengenai sentimen investor di bursa saham nasional saat itu.

Namun, pada sisi lain pasar valuta asing, kondisi yang dihadapi oleh mata uang Rupiah menunjukkan tekanan yang cukup signifikan. Tekanan ini menjadi kontras dengan performa positif yang dicatatkan oleh indeks saham.

Mata uang Garuda terpantau mengalami pelemahan drastis saat berhadapan langsung dengan Dolar Amerika Serikat pada hari yang sama. Pelemahan ini membawa Rupiah mendekati batas level Rp17.400 per dolar AS.

Kondisi pelemahan Rupiah ini disebut-sebut turut dipengaruhi oleh bayang-bayang kekhawatiran yang menyelimuti sektor manufaktur Indonesia. Sektor riil ini menjadi salah satu perhatian utama pasar saat itu.

Dilansir dari BISNISMARKET.COM, penguatan IHSG hanya bersifat tipis, mengindikasikan bahwa sentimen negatif dari sektor manufaktur mulai memberikan efeknya. Hal ini perlu dicermati oleh para pelaku pasar modal.

Meskipun demikian, pasar saham masih mampu bertahan di level tinggi, menunjukkan bahwa investor masih memiliki optimisme jangka panjang. Akan tetapi, pergerakan Rupiah menjadi alarm bagi stabilitas ekonomi makro.

Kondisi pelemahan Rupiah yang mendekati Rp17.400 per dolar AS tersebut menggarisbawahi tantangan eksternal yang dihadapi Indonesia. Tekanan nilai tukar ini seringkali terkait dengan kondisi fundamental sektor-sektor unggulan ekonomi.

Para analis pasar memandang bahwa pelemahan ini merupakan refleksi dari kekhawatiran investor terhadap prospek kinerja sektor manufaktur ke depan. Hal ini memicu penarikan dana dan pelemahan pada mata uang lokal.