JAKARTA, Infotren.id – Perkembangan teknologi digital yang semakin masif dinilai telah mengubah cara masyarakat memahami dan mengonsumsi kebudayaan.
Arus informasi yang bergerak cepat, ditambah dominasi platform digital, disebut turut melahirkan budaya instan yang perlahan mengikis kedalaman makna dan ingatan kolektif masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Jaringan Kebudayaan Rakyat atau JAKER dengan menggelar diskusi publik bertajuk “Merawat Ingatan di Tengah Budaya Instan dan Krisis Makna di Era Digital”.
PT MBI Gandeng Disnakertrans Muba Seleksi Ketat 25 Petugas Keamanan Prioritas Warga Lokal
Ketua Umum JAKER, Annisa, menilai kebudayaan saat ini kerap direduksi menjadi sekadar konten cepat saji yang mudah viral, namun miskin pemaknaan. Menurutnya, tradisi lisan, kesenian rakyat, hingga nilai sosial seperti gotong royong perlahan kehilangan ruang hidup di tengah derasnya budaya digital.
“Informasi bergerak cepat, ruang interaksi bergeser ke platform digital, dan praktik kebudayaan mengalami transformasi yang tidak selalu diiringi dengan kedalaman makna,” ujar Annisa, Selasa (19/5/2026).
Ia menilai fenomena budaya instan tidak hanya memengaruhi pola konsumsi informasi, tetapi juga mengubah dinamika ruang publik. Berbagai isu aktual kini lebih sering dikonsumsi secara emosional dan singkat dibandingkan dibahas secara mendalam dan substantif.
Peluang Emas Mahasiswi Baru UGM 2026: Beasiswa STEM Kolaborasi Internasional Telah Dibuka
Pernyataan kontroversial tokoh publik, polemik identitas personal, hingga narasi politik yang berulang dinilai lebih cepat menyebar dibandingkan diskursus yang mendorong pertukaran gagasan secara sehat.
Bahkan, konflik geopolitik internasional yang kompleks pun kini kerap dipahami hanya melalui potongan-potongan informasi instan di media sosial.
JAKER menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya krisis makna dalam kehidupan sosial masyarakat modern. Ruang publik yang seharusnya menjadi arena dialog dan pertukaran pemikiran perlahan bergeser menjadi ruang reproduksi sensasi.