INFOTREN.ID - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) baru-baru ini menyoroti sebuah strategi penting yang diyakini dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional Indonesia ke depan. Strategi tersebut berpusat pada pemberian insentif yang tepat sasaran.
Fokus utama dari upaya penguatan ekonomi ini adalah pengembangan infrastruktur pendukung bagi kendaraan listrik (EV) serta sektor energi bersih secara keseluruhan. Hal ini dipandang sebagai langkah vital dalam menghadapi tantangan struktural yang ada.
Dilansir dari JAKARTAHYPE.COM, Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, telah memaparkan proyeksi mengenai kondisi ekonomi makro Indonesia di masa mendatang. Proyeksi ini memberikan gambaran tentang potensi laju pertumbuhan yang bisa dicapai.
Menurut proyeksi tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 diprediksi mampu mencapai angka 5 persen. Target ambisius ini ditetapkan meskipun Indonesia tengah menghadapi berbagai tantangan struktural domestik yang perlu segera diatasi.
Tantangan lain yang turut memengaruhi proyeksi ini adalah adanya perlambatan ekonomi global yang masih terus berlangsung hingga saat ini. Kondisi eksternal ini menuntut adanya kebijakan domestik yang adaptif dan kuat.
Meskipun demikian, Indef meyakini bahwa stabilitas makroekonomi Indonesia diperkirakan masih dapat dipertahankan dengan baik. Stabilitas ini menjadi prasyarat penting agar program pembangunan dapat berjalan sesuai rencana.
Stabilitas tersebut didukung oleh asumsi spesifik terkait pengendalian harga dan nilai tukar mata uang. Inflasi diprediksi dapat dijaga relatif terkendali, yakni berada di kisaran 3 persen.
Selain itu, pergerakan nilai tukar rupiah juga diperkirakan masih berada dalam batas yang dapat dikelola. Diperkirakan nilai tukar akan mendekati level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat.
Esther Sri Astuti menyampaikan pandangannya mengenai peran insentif ini, "Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 diprediksi berada di angka 5 persen, sebuah target yang muncul di tengah tantangan struktural domestik serta perlambatan ekonomi global yang sedang berlangsung," ujarnya.