INFOTREN.ID - Pergerakan pasar komoditas energi pada Rabu pagi, 29 April 2026, menunjukkan adanya sedikit pelemahan pada harga minyak mentah global. Koreksi harga ini terjadi setelah pasar sempat mencatatkan kenaikan signifikan selama beberapa sesi perdagangan sebelumnya secara berturut-turut.

Peristiwa pelemahan harga ini tercatat pada perdagangan Rabu pagi, tepatnya pukul 09.45 WIB, sebagaimana dikutip dari data Refinitiv. Penurunan tipis ini memberikan jeda bagi pelaku pasar setelah kenaikan harga yang cukup substansial dalam beberapa waktu terakhir.

Kenaikan signifikan sebelumnya sempat dialami oleh minyak mentah jenis Brent, yang melonjak hingga 12,8% sejak tanggal 17 April. Sementara itu, jenis West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami lonjakan harga yang impresif, yakni sebesar 18,1% dalam periode waktu yang hampir bersamaan.

Meskipun terjadi koreksi harga pada hari itu, sentimen pasar secara keseluruhan masih didominasi oleh kekhawatiran yang mendalam. Kekhawatiran utama ini berpusat pada potensi gangguan serius terhadap pasokan energi global.

Gangguan pasokan tersebut dikhawatirkan akan terjadi apabila eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah terus meningkat. Kawasan ini memang dikenal sebagai salah satu urat nadi utama suplai minyak dunia.

Koreksi harga yang terjadi saat ini dapat diartikan sebagai respons pasar yang mengambil keuntungan setelah kenaikan tajam, meskipun faktor risiko geopolitik masih menjadi penentu arah harga. Data mengenai stok minyak di Amerika Serikat juga turut memengaruhi sentimen investor pada hari tersebut.

Pergerakan harga minyak yang fluktuatif ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap dinamika politik global dan data fundamental ekonomi. Para analis terus memantau perkembangan di Timur Tengah sebagai indikator utama pergerakan harga selanjutnya.

Dilansir dari BISNISMARKET.COM, harga minyak mentah global mengalami sedikit pelemahan pada perdagangan Rabu pagi (29/4/2026) setelah sebelumnya mencatatkan kenaikan signifikan selama beberapa sesi perdagangan berturut-turut.

"Koreksi ini terjadi meskipun sentimen pasar masih didominasi oleh kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah," sebagaimana dikutip dari data Refinitiv.