INFOTREN.ID - Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan tren kenaikan signifikan pada perdagangan hari ini, Selasa (28/5/2024). Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama setelah insiden eskalasi konflik terbaru yang melibatkan negara-negara kunci di wilayah tersebut.

Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) melaporkan bahwa stok minyak mentah komersial AS mengalami penurunan tak terduga sebesar 3,5 juta barel pekan lalu, yang turut memperparah sentimen pasar. Penurunan stok ini lebih besar dari prediksi analis pasar yang hanya memperkirakan penurunan sekitar 1,2 juta barel.

Analis pasar energi dari PT Global Energi Futures, Budi Santoso, menyatakan bahwa faktor psikologis pasar saat ini sangat sensitif terhadap berita dari Timur Tengah. "Pasar bereaksi berlebihan terhadap setiap berita eskalasi, karena kekhawatiran akan gangguan pasokan global selalu menjadi isu utama dalam perdagangan minyak," ujar Budi Santoso.

Selain isu geopolitik, keputusan OPEC+ untuk melanjutkan pemotongan produksi hingga kuartal ketiga tahun ini juga memberikan tekanan kenaikan pada harga. Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas harga di tengah ketidakpastian permintaan global.

Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, dalam konferensi pers virtualnya kemarin, menekankan pentingnya dialog diplomatik. "Kami mendesak semua pihak terkait untuk segera meredakan ketegangan demi menjaga stabilitas harga energi yang berdampak langsung pada pemulihan ekonomi dunia," kata Fatih Birol.

Dampak kenaikan harga minyak ini diprediksi akan segera merambat ke pasar domestik Indonesia dalam bentuk kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi, meskipun harga BBM bersubsidi relatif aman karena disubsidi pemerintah. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan tengah memantau situasi global secara ketat.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent ditutup pada level USD 84,50 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) mencapai USD 80,25 per barel pada penutupan perdagangan semalam. Angka ini merupakan kenaikan tertinggi dalam dua minggu terakhir.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan mengimbau masyarakat agar tidak panik panic buying terhadap komoditas energi karena stok nasional dianggap masih memadai untuk beberapa waktu ke depan.

  • --