INFOTREN.ID - Sebuah peristiwa guncangan tektonik berkekuatan Magnitudo (M) 4,7 baru saja tercatat mengguncang wilayah Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Peristiwa alam ini terjadi pada Sabtu dini hari dan segera menarik perhatian dari badan mitigasi bencana.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi lembaga yang pertama kali merilis informasi resmi mengenai kejadian seismik tersebut. Mereka bertugas mencatat dan mengumumkan parameter penting terkait lokasi serta waktu terjadinya gempa.

Secara spesifik, waktu terjadinya gempa ditetapkan pada hari Sabtu, tepatnya tanggal 27 Juni 2026. Getaran tersebut dirasakan oleh masyarakat sekitar pada pukul 03.07 Waktu Indonesia Barat (WIB).

Informasi waktu yang tepat ini sangat krusial karena memberikan kerangka waktu yang jelas bagi pihak berwenang dan masyarakat dalam merespons potensi dampak. Data ini juga penting untuk analisis lebih lanjut mengenai aktivitas tektonik di wilayah tersebut.

BMKG memastikan bahwa pusat episentrum atau lokasi kedalaman gempa tersebut berada di kawasan perairan. Penentuan lokasi di laut ini didasarkan pada perhitungan seismograf yang tersebar di sekitar zona aktif.

Dilansir dari HOTNEWS.ID, peristiwa ini merupakan bagian dari dinamika geologis di kawasan Sulawesi Utara yang memang dikenal memiliki potensi kegempaan tinggi. Meskipun berkekuatan relatif sedang, kewaspadaan tetap diimbau.

Mengenai detail teknis, lembaga tersebut mencatat parameter penting terkait lokasi dan waktu kejadian gempa. Hal ini merupakan prosedur standar BMKG pasca-terdeteksinya aktivitas seismik.

"Sebuah peristiwa guncangan tektonik dengan kekuatan magnitudo (M) 4,7 baru saja terjadi di wilayah Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara," pernyataan ini mengonfirmasi besaran getaran yang tercatat, menurut sumber berita.

"Mereka mencatat parameter penting terkait lokasi dan waktu kejadian gempa," kutipan ini menegaskan peran aktif BMKG dalam dokumentasi seismik, sebagaimana dikutip dari HOTNEWS.ID.