INFOTREN.ID - Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah dilaporkan mengalami peningkatan eskalasi setelah militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara terhadap sasaran militer Iran untuk kali kedua dalam sepekan ini.
Insiden bersenjata yang terjadi secara beruntun ini muncul di tengah kondisi negosiasi gencatan senjata yang rapuh serta upaya pemulihan jalur distribusi energi di Selat Hormuz. Hal ini diungkapkan oleh Dikutip dari Media Indonesia.
Otoritas militer AS mengonfirmasi bahwa pasukan mereka sukses menembak jatuh empat pesawat nirawak (drone) milik Iran yang sedang diarahkan menuju kapal-kapal komersial yang melintas.
Selain itu, pasukan AS juga dilaporkan berhasil menghancurkan fasilitas peluncur rudal di area Selat Hormuz, yang diklaim sebagai bagian dari tindakan pertahanan diri yang diperlukan.
Pemerintah Iran memberikan respons cepat terhadap langkah AS tersebut dengan melancarkan serangan balasan yang secara spesifik menargetkan pangkalan militer milik Amerika Serikat.
Menyusul eskalasi ini, Kuwait mengambil langkah antisipatif dengan mengumumkan pengaktifan sistem pertahanan udara nasionalnya untuk mencegah ancaman objek militer asing yang mendekati wilayah kedaulatan negara tersebut.
Konflik bersenjata ini secara langsung memberikan dampak signifikan pada sektor ekonomi global, terutama karena penutupan Selat Hormuz sejak akhir Februari yang memutus sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia.
Dampak penutupan tersebut terlihat dari lonjakan harga minyak mentah jenis Brent sebesar empat persen, yang mencapai level US$98,20 per barel pada perdagangan hari Kamis, 28 Mei 2026.
Meskipun angka ini masih berada di bawah rekor tertinggi yang tercatat bulan lalu pada level US$126, harga saat ini terpantau lebih tinggi sepertiga dari periode sebelum konflik pecah, sementara kontrak berjangka gas di Eropa melonjak hingga 50 persen.