INFOTREN.ID - Sebuah karya fotografi astrofotografi yang memukau berhasil diabadikan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), menampilkan jejak cahaya bintang yang membentang selama 10 jam penuh. Foto yang dihasilkan ini bukan sekadar estetika visual, melainkan menjadi bukti empiris yang kuat mengenai fenomena fisika fundamental, yaitu rotasi planet Bumi.

Objek utama dari foto tersebut adalah formasi jejak bintang atau star trail yang melengkung indah di langit malam. Fenomena ini terjadi akibat pergerakan semu benda-benda langit saat Bumi berputar pada porosnya selama periode waktu yang panjang. Keindahan visual ini menarik perhatian para pengamat langit dan komunitas fotografi.

Fotografer yang bertanggung jawab atas penangkapan gambar spektakuler ini adalah Agung Pamungkas. Ia mendedikasikan waktu sepuluh jam penuh untuk melakukan eksposur panjang demi menghasilkan citra yang akurat dan dramatis ini. Lokasi pengambilan gambar dipilih secara strategis untuk memaksimalkan kejernihan langit malam di daerah tersebut.

Agung Pamungkas menjelaskan bahwa pembuatan foto star trail ini membutuhkan perencanaan teknis yang sangat matang, terutama dalam hal durasi dan stabilitas peralatan. Proses ini melibatkan teknik long exposure yang memungkinkan sensor kamera menangkap pergerakan bintang seiring waktu.

"Foto ini adalah representasi visual yang sangat nyata dari bagaimana Bumi berputar, bukan sekadar gerakan bintang yang tampak bergerak di langit," ujar Agung Pamungkas. Pernyataan ini menekankan aspek edukatif dari karya seni visual yang ia ciptakan.

Fakta bahwa jejak bintang tersebut membentuk busur melingkar menunjukkan bahwa titik pusat rotasi Bumi, yakni Kutub Utara Langit atau Kutub Selatan Langit, berada di dekat cakrawala atau di luar bingkai foto. Ini adalah ciri khas dari fotografi star trail di lintang yang jauh dari ekuator.

Keberhasilan pengambilan gambar berdurasi 10 jam ini juga menegaskan kondisi atmosfer di NTT yang relatif minim polusi cahaya pada malam hari. Kondisi ideal ini sangat krusial bagi para astrofotografer untuk menangkap detail objek-objek langit yang redup.

Fenomena ini menjadi pengingat visual yang kuat bagi masyarakat bahwa Bumi yang kita pijak sebenarnya terus bergerak dan berotasi. Fotografi jenis ini berfungsi sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan alam dan seni visual kontemporer.

Dikutip dari informasi yang beredar, Agung Pamungkas berharap karyanya dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk mengamati dan menghargai keajaiban alam semesta di sekitar kita. Keakuratan waktu eksposur sepuluh jam adalah kunci untuk mendapatkan lengkungan yang jelas.