DENPASAR – Di tengah derasnya arus media sosial yang membuat banyak anak muda lebih akrab dengan layar ponsel dibanding panggung seni, ratusan pelajar di Bali justru memilih jalan berbeda. Mereka akan tampil dalam pertunjukan operet, membuktikan bahwa seni pertunjukan masih memiliki tempat di hati generasi muda.

Sebanyak 17 tim teater dari tingkat SMP dan SMA dipastikan ambil bagian dalam PAKSI (Panggung Kreasi) 2026, sebuah festival operet yang akan berlangsung pada 28–30 Agustus 2026 di Dharma Alaya Negara (DNA), Denpasar.

Ajang yang digagas Komunitas Ruang Kreasi ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga upaya membangkitkan kembali minat generasi muda terhadap seni pertunjukan yang mulai jarang mendapat ruang.

Ketua Komunitas Ruang Kreasi, Iko Putra Tara Tiyasa, mengatakan operet dipilih karena mampu menjadi pintu masuk bagi pelajar untuk mengenal dunia seni secara lebih menyeluruh. Dalam satu pertunjukan, peserta belajar berakting, menyusun cerita, menata panggung, mengolah musik, hingga bekerja sama sebagai sebuah tim.

"Operet menjadi dasar dari seni pertunjukan karena menggabungkan berbagai unsur kreatif dalam satu panggung," ujarnya.

Berbeda dari lomba seni pada umumnya, tema yang diangkat tahun ini adalah tokoh-tokoh inspiratif dunia. Para peserta diberi kebebasan memilih figur yang dianggap mampu menginspirasi, kemudian mengadaptasinya menjadi pertunjukan yang kreatif dan relevan dengan kehidupan generasi muda.

Pesan yang ingin dibangun sederhana, namun kuat: anak muda harus berani bermimpi besar, membangun karakter, dan menggunakan potensi yang dimiliki untuk memberi manfaat bagi masyarakat.

Antusiasme peserta bahkan melampaui ekspektasi panitia. Awalnya hanya ditargetkan 16 tim, namun hingga penutupan pendaftaran tercatat 17 kelompok teater sekolah siap tampil.

Ketua Panitia PAKSI 2026, Ida Bagus Gde Santa Prasada, mengaku optimistis festival perdana ini akan menjadi awal kebangkitan seni pertunjukan di kalangan pelajar.

Menurutnya, semangat peserta terlihat sejak proses persiapan. Berbagai ide kreatif bermunculan dalam sesi technical meeting, menunjukkan bahwa generasi muda masih memiliki ketertarikan besar terhadap dunia teater jika diberikan ruang untuk berkembang.