INFOTREN.ID - Jeff Bezos, sosok pendiri perusahaan raksasa e-commerce Amazon dan salah satu figur terkaya di dunia, memiliki rutinitas pagi yang unik dan sangat berbeda dari kebanyakan eksekutif sibuk lainnya. Inti dari kebiasaan ini adalah penundaan total dalam berinteraksi dengan perangkat digital segera setelah ia terbangun.
Prinsip inti yang dipegang teguh oleh Bezos ini dikenal luas sebagai 'no phone rule'. Aturan ini secara eksplisit mewajibkan dirinya untuk menjauhkan diri dari ponsel pintar, memeriksa email pekerjaan, serta menelusuri media sosial selama 60 menit penuh pertama dalam harinya.
Kebiasaan ini merupakan sebuah jeda yang disengaja dari apa yang sering disebut sebagai 'kebisingan' digital yang cenderung mendominasi dan menginterupsi awal hari banyak profesional. Penundaan ini bertujuan memberikan ruang bagi pikiran untuk memulai hari dengan tenang.
Latar belakang mengenai penerapan disiplin pagi ini diungkapkan oleh istrinya, Lauren Sánchez, kepada publik. Ia membeberkan bahwa waktu pagi mereka dihabiskan untuk aktivitas yang menenangkan dan membangun koneksi interpersonal.
Lauren Sánchez menceritakan bagaimana waktu tenang tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan santai, seperti menikmati hidangan kopi pagi bersama tanpa adanya gangguan dari notifikasi elektronik yang muncul dari gawai. Hal ini menunjukkan prioritas yang diberikan pada ketenangan mental.
Waktu hening tanpa interupsi digital ini menjadi fondasi penting yang harus dibangun sebelum Bezos menghadapi berbagai tuntutan dan kompleksitas yang melekat pada hari kerja yang padat. Ini adalah persiapan mental yang terstruktur.
Dilansir dari JAKARTAHYPE.COM, kebiasaan ini menekankan pentingnya mengendalikan respons awal terhadap dunia luar. Dengan menunda paparan informasi, Bezos diduga mampu mempertahankan fokus dan kejernihan berpikir lebih lama.
"Kebiasaan ini berpusat pada penundaan total interaksi dengan perangkat digital setelah bangun tidur," ujar Lauren Sánchez, menjelaskan esensi dari rutinitas pagi suaminya.
Waktu tenang selama satu jam pertama ini memungkinkan otak untuk memproses pemikiran secara mandiri, sebuah praktik yang dianggap krusial untuk menjaga ketajaman kognitif tingkat tinggi dalam mengambil keputusan strategis.