INFOTREN.ID - Pemerintah Indonesia tengah menggalakkan transformasi digital dalam penyaluran bantuan sosial (bansos) yang menyasar 12,5 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di 43 kabupaten dan kota. Langkah ini digadang-gadang sebagai upaya strategis untuk merampingkan birokrasi yang kompleks dan meningkatkan transparansi dalam proses pencairan dana bantuan.

Namun, di balik upaya modernisasi ini, muncul suara dari kalangan akademisi yang menyuarakan kekhawatiran mendalam. Inisiatif digitalisasi yang digagas pemerintah ini berpotensi menimbulkan berbagai tantangan baru yang perlu diantisipasi.

Prof. Ulung Pribadi, seorang pakar Ilmu Pemerintahan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), secara tegas mengingatkan adanya potensi risiko baru yang mengintai. Beliau menyoroti bahwa kemajuan teknologi dalam penyaluran bantuan sosial ini bisa saja menciptakan bentuk kemiskinan baru.

"Digitalisasi bansos dapat menciptakan bentuk kemiskinan baru, yaitu ketidakmampuan sebagian warga dalam mengakses dan memanfaatkan sistem digital yang diterapkan," ungkap Prof. Ulung Pribadi dalam sebuah keterangan tertulis.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung dari Yogyakarta pada hari Kamis, 23 Juli 2026. Beliau menekankan pentingnya kesiapan seluruh lapisan masyarakat, terutama kelompok rentan, untuk beradaptasi dengan perubahan ini.

Kekhawatiran utama Prof. Pribadi berkaitan dengan kesenjangan digital yang mungkin terjadi. Tidak semua warga, terutama yang berada di daerah terpencil atau memiliki keterbatasan ekonomi, memiliki akses memadai terhadap teknologi digital atau literasi yang cukup untuk mengoperasikannya.

Hal ini dapat menghambat mereka dalam menerima hak bantuan sosial yang seharusnya menjadi jaring pengaman sosial. Jika tidak diatasi, digitalisasi bansos justru bisa memperlebar jurang ketidaksetaraan.

Upaya pemerintah untuk memangkas birokrasi dan meningkatkan transparansi memang patut diapresiasi. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada bagaimana pemerintah mampu menjembatani kesenjangan akses digital tersebut.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Jakartahype. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.